Di Tengah Konflik, PGGTP Komandangkan Doa Satu Minggu bagi Tanah Papua.

Nabire, SPN – Persekutuan Gereja-Gereja di Papua Tengah (PGGPT) mengajak seluruh gereja dan umat Kristen di Enam Provinsi di Tanah Papua untuk mengikuti Gerakan Doa Satu Minggu bagi Tanah Papua. Gerakan doa bagi Enam Provinsi di Tanah Papua, berlangsung pada 5 hingga 11 Juli 2026.

Gerakan doa ini menjadi seruan bersama sebagai respons iman atas berbagai peristiwa duka, kekerasan, ketakutan, kehilangan nyawa, dan penderitaan yang dialami masyarakat di sejumlah wilayah Papua.

Seruan tersebut tertuang dalam surat bernomor G-01/PGG-PT/S.Sr/VI/2026 yang diterbitkan di Nabire pada 4 Juli 2026 dan ditandatangani Ketua Umum PGGPT, Pendeta Dr. Yance Nawipa, M.A., M.Th.

Gerakan doa ini dilaksanakan serentak setiap hari mulai Minggu, 5 Juli hingga Sabtu, 11 Juli 2026, pukul 18.00–20.00 WIT di seluruh gereja, rumah-rumah jemaat, kelompok persekutuan doa, maupun tempat pelayanan lainnya yang berada di wilayah Provinsi Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, Papua Selatan, Papua Barat, dan Papua Barat Daya.

Ketua Umum PGGPT Pendeta Dr. Yance Nawipa, M.A., M.Th (Foto  : Istimewa)
Ketua Umum PGGPT Pendeta Dr. Yance Nawipa, M.A., M.Th (Foto : Istimewa)

PGGPT mengajak seluruh unsur gereja untuk terlibat, mulai dari sinode, paroki, klasis, jemaat, gembala sidang, majelis jemaat, para hamba Tuhan, hingga kaum bapak, kaum ibu, pemuda, remaja, anak-anak sekolah minggu, dan seluruh umat Tuhan.

Tujuh Pokok Doa

Sponsored Banner Pulauseribu.co.id

Selama tujuh hari pelaksanaan doa, PGGPT telah menyusun tema dan pokok doa harian sebagai pedoman bagi seluruh gereja.

Hari pertama difokuskan pada pengakuan dosa dan kerendahan hati, mengajak umat meninggalkan kebencian, dendam, serta segala bentuk kekerasan.

Hari kedua mengangkat doa agar Tuhan menghentikan kekerasan dan pertumpahan darah yang masih terjadi di berbagai wilayah Papua.

Hari ketiga dikhususkan bagi keluarga-keluarga yang kehilangan anggota keluarga, para ibu yang berduka, anak-anak yang kehilangan orang tua, serta semua orang yang mengalami trauma.

Hari keempat berisi doa perlindungan bagi masyarakat sipil, pelayan Tuhan, tenaga kesehatan, guru, perempuan, anak-anak, dan warga yang tinggal di daerah rawan konflik.

Hari kelima mengajak jemaat mendoakan pemerintah, aparat keamanan, pimpinan gereja, tokoh adat, dan seluruh pemangku kepentingan agar diberikan hikmat dalam mengambil keputusan yang mengutamakan keselamatan manusia, keadilan, dan perdamaian.

Hari keenam difokuskan pada pemulihan hati serta masa depan generasi muda Papua agar dijauhkan dari kekerasan, narkoba, alkohol, putus sekolah, dan berbagai persoalan sosial lainnya.

Sementara pada hari ketujuh, seluruh gereja diajak memohon kebangunan rohani dan damai sejahtera Tuhan bagi seluruh Tanah Papua.

Gerakan Doa Satu Minggu ini diharapkan menjadi momentum bagi seluruh umat Kristen di Tanah Papua untuk bersatu dalam doa, memperkuat iman, serta memohon campur tangan Tuhan bagi terciptanya kehidupan yang damai, aman, dan penuh pengharapan bagi seluruh masyarakat Papua.