JAKARTA, SPN | Pertanian perkotaan terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan ruang hijau produktif dan pengelolaan limbah yang berkelanjutan. Salah satu metode yang mulai mendapat perhatian adalah hugelkultur, teknik budidaya yang memanfaatkan kayu lapuk, ranting, daun, dan berbagai limbah organik sebagai media tanam sekaligus sumber nutrisi alami.
Metode yang berasal dari Jerman dan kawasan Eropa Timur tersebut dinilai mampu membantu mengurangi timbulan limbah organik sekaligus meningkatkan kesuburan tanah dalam jangka panjang.
Pakar dari IPB University, Muhammad Iqbal Nurulhaq mengatakan, hugelkultur memiliki potensi sebagai sistem pertanian berkelanjutan karena dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air, memperbaiki struktur tanah, dan mengoptimalkan pemanfaatan limbah biomassa.
“Pada prinsipnya, hugelkultur sangat potensial sebagai sistem pertanian berkelanjutan karena mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air, memperbaiki struktur tanah, serta memanfaatkan limbah biomassa secara optimal,” ujar Iqbal seperti dikutip dari IPB Digitani, Kamis, (25/6/2026).
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penerapan metode tersebut memerlukan perencanaan yang matang, terutama jika diterapkan dalam skala besar.
Menurutnya, kebutuhan bahan organik dalam jumlah besar, tenaga kerja pada tahap awal, serta kebutuhan menjaga keseragaman bedeng tanam menjadi sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan.
Dalam sistem hugelkultur, limbah organik seperti kayu tua, ranting, daun kering, hingga pupuk kandang disusun secara berlapis di dalam bedeng tanam. Seiring proses dekomposisi, material tersebut akan menjadi sumber nutrisi bagi tanaman sekaligus membantu menjaga kelembapan tanah.
Iqbal menyarankan penggunaan kayu yang telah tua atau setengah lapuk agar proses penguraian berlangsung lebih stabil dan tidak terlalu banyak menyerap nitrogen dari tanah. Kombinasi bahan organik keras dan lunak juga diperlukan untuk menjaga keseimbangan unsur hara.
Apabila dikelola dengan baik, satu bedeng hugelkultur dapat dimanfaatkan selama lima hingga 10 tahun tanpa perlu dibongkar.
Selain mendukung produksi pangan skala rumah tangga, metode ini juga berpotensi menjadi bagian dari pengelolaan sampah berbasis sumber. Namun untuk skala industri cukup memakan biaya yang besar karena kebutuhan material limbah organik tersebut juga cukup besar.
Untuk level rumah tangga, limbah organik rumah tangga yang selama ini berakhir di tempat pembuangan dapat dimanfaatkan kembali menjadi media tanam yang produktif dan berkelanjutan.

Berdasarkan penelitian para praktisi hugekultur, pada skala pekarangan, sebuah raised bed berukuran sekitar dua meter dengan tinggi 50 sentimeter mampu menampung ratusan kilogram material organik. Jika diterapkan pada beberapa bedeng sekaligus, volume limbah yang dapat dimanfaatkan menjadi lebih besar dan kualitas tanah berpotensi meningkat dari waktu ke waktu.
Hugelkultur menawarkan pendekatan yang relatif sederhana karena memanfaatkan sumber daya lokal yang tersedia di lingkungan sekitar. Metode ini juga dapat dipadukan dengan penggunaan pupuk organik maupun pestisida nabati berbahan dasar limbah organik yang telah diolah, sehingga mendukung sistem budidaya yang lebih ramah lingkungan yang kini mulai menjadi trend di berbagai kota di dunia. ***







