JAKARTA, SPN – Fenomena El Nino 2026 mulai memicu dampak kekeringan di berbagai wilayah Indonesia. Sejumlah sungai dan bendungan dilaporkan mengalami penyusutan debit air, bahkan beberapa di antaranya mulai mengering akibat musim kemarau yang lebih panjang dan kering.
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang memengaruhi pola cuaca global, termasuk menurunkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Pada 2026, fenomena tersebut dilaporkan menjadi salah satu yang terkuat sehingga meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah daerah.
Salah satu lokasi yang terdampak adalah Sungai Barito Utara di Kalimantan. Berdasarkan unggahan peneliti klimatologi Erma Yulihastin melalui media sosial X pada Jumat, kondisi sungai menyusut hingga dasar sungai terlihat dan dapat dilalui warga di bawah Jembatan Kalahiyen.
Selain Sungai Barito, sejumlah bendungan dan sungai di berbagai daerah juga dilaporkan mengalami penurunan debit air, yakni Bendungan Mukakuning, Bendungan Sei Harapan, dan Bendungan Nongsa di Batam.
Kondisi serupa juga terjadi di Bendungan Karian, Banten, yang mengalami penyusutan debit air secara signifikan, serta Bendungan Delingan di Karanganyar, Jawa Tengah, yang dilaporkan surut hingga dasar bendungan terlihat.
Di wilayah Jabodetabek, Bendung Katulampa sempat mencatat tinggi muka air mencapai nol sentimeter, sementara aliran Sungai Cisadane dan Sungai Bekasi mengalami penyusutan hingga bagian dasar sungai terlihat di sejumlah titik.
Kekeringan juga dilaporkan terjadi di Anak Sungai Cimulu di Tasikmalaya, Jawa Barat, serta penurunan debit air di Sungai Kapuas dan Sungai Landak di Kalimantan Barat. Sementara itu, Sungai di Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku, dilaporkan mulai mengering.
Sejumlah pihak mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan yang diperkirakan masih berlangsung selama musim kemarau, termasuk dengan menghemat penggunaan air dan mengantisipasi risiko kebakaran hutan maupun lahan. ***





