JAKARTA, SPN – Di usia 57 tahun, Agus Bei masih menunjukkan semangat yang sama seperti saat pertama kali menanam mangrove lebih dari dua dekade lalu. Di tengah berbagai penghargaan yang telah diterimanya, pegiat lingkungan asal Balikpapan itu tetap memilih berada di pesisir, memastikan ribuan mangrove terus tumbuh demi menjaga masa depan Teluk Balikpapan.
Perjalanan Agus dimulai pada 2001 ketika ia mulai menanam mangrove di kawasan Graha Indah, Balikpapan. Saat itu, kawasan yang kini menjadi Mangrove Center Graha Indah masih dipandang sebelah mata. Banyak yang meragukan bahkan mencibir upayanya karena menanam mangrove di lahan yang berada di bawah permukaan laut.
“Kalau orang membuat sesuatu yang baru, biasanya dianggap aneh. Karena mereka tidak tahu prosesnya, jadinya bahan tertawaan, bahan nyinyiran,” kenangnya saat berbincang-bincang dengan SPN melalui saluran telepon, Senin, (6/7/2026).
Namun cibiran tidak menghentikan langkahnya. Selama hampir 20 tahun lebih menggeluti konservasi mangrove, Agus terus melakukan berbagai percobaan hingga menemukan metode yang dinilai efektif.
“Saya lakukan trial. Gagal, saya bangkit. Sampai menemukan metode yang optimal,” ujarnya.
Dari berbagai percobaan itu lahirlah Metode Tanam Mangrove Buispot GB, sebuah inovasi yang mulai diterapkan sejak Oktober 2025. Metode tersebut menggunakan buis beton sebagai media tanam sekaligus pemecah gelombang (breakwater) dan penangkap sedimen sehingga membantu mempertahankan garis pantai alami.
Pengembangan metode itu dilakukan melalui kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan dan PT Inti Pratama Group Balikpapan.
“Metode Tanam Mangrove Buispot GB adalah solusi tanam area pesisir pantai yang berfungsi sebagai media tanam sekaligus sebagai breakwater dan tangkapan sedimen sehingga mempertahankan garis pantai alamiah,” terangnya.
Hampir setahun berjalan, hasilnya mulai terlihat. Area yang sebelumnya didominasi hamparan lumpur kini mulai berubah menjadi hijau. Bibit-bibit mangrove tumbuh semakin kuat dan mulai saling mengikat melalui sistem perakarannya sehingga membantu menangkap sedimen dan memperkuat kawasan pesisir dari ancaman abrasi.
Keberhasilan tersebut melengkapi kiprah Agus dalam membangun Mangrove Center Graha Indah yang kini membentang sekitar 150 hektare. Kawasan itu menjadi habitat puluhan jenis mangrove, didominasi Rhizophora mucronata, sekaligus rumah bagi satwa endemik Kalimantan seperti bekantan, berbagai jenis burung, reptil, hingga biota pesisir lainnya.
Meski kini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata edukasi mangrove di Balikpapan, Agus menegaskan sejak awal dirinya tidak pernah membangun kawasan tersebut untuk tujuan wisata.
“Konsep awal saya bukan destinasi. Saya fokus ke lingkungan. Ketika lingkungan bagus, multi-efeknya baru muncul, termasuk ekonomi,” tuturnya.
Menurutnya, pengelolaan mangrove harus mengedepankan konsep ekonomi hijau sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan masyarakat tanpa merusak fungsi ekologis kawasan.
“Yang harus dimunculkan itu ekonomi hijau, tanpa merusak apa pun,” tegasnya.
Selama lebih dari dua dekade merawat mangrove, Agus mengaku tantangan terbesar justru datang ketika kawasan yang telah dipulihkan kembali mengalami kerusakan akibat aktivitas manusia.
“Bukan soal biaya tanamnya, tapi generasi yang hilang dan generasi yang harus menunggu,” katanya.
Ia pun berharap pemerintah terus memperkuat pengawasan terhadap aktivitas pembangunan di kawasan pesisir agar keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan tetap terjaga.
“Kalau hanya karena punya surat lalu merasa boleh merusak, di situ pemerintah seharusnya bijak,” ucapnya.

Dedikasi Agus Bei dalam pelestarian lingkungan telah membawanya meraih berbagai penghargaan bergengsi. Selain menerima Kalpataru pada era Presiden Joko Widodo serta Kalpataru Lestari tahun 2026, penghargaan tertinggi pemerintah di bidang lingkungan hidup, ia juga memperoleh berbagai apresiasi nasional maupun internasional.
Teranyar, pada Desember 2025, Agus Bei menerima The Ambassadors’ 75 Planet Awards yang diberikan atas nama Pemerintah Britania Raya (Inggris) pada akhir Desember 2025. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan internasional atas kontribusinya dalam konservasi lingkungan dan inovasi rehabilitasi kawasan pesisir.
Meski demikian, bagi Agus penghargaan bukanlah tujuan akhir. Di usianya yang menginjak 57 tahun, ia ingin meninggalkan warisan berupa cara berpikir kepada generasi berikutnya.
“Kalau saya tidak ada, yang saya tinggalkan itu cara berpikir. Bahwa lingkungan ini dijaga, bukan ditunggu rusak dulu baru bertindak,” pungkasnya.

Bagi Agus Bei, menanam mangrove bukan sekadar menancapkan bibit di tanah berlumpur. Lebih dari itu, upaya tersebut merupakan ikhtiar panjang untuk menjaga napas Teluk Balikpapan, melindungi garis pantai, menjaga keanekaragaman hayati, sekaligus memastikan generasi mendatang tetap mewarisi lingkungan pesisir yang lestari. ***

