YOGYAKARTA, SPN – Pengukuhan Prof. Tri Wulandari sebagai guru besar menghadirkan perspektif baru dalam melihat ancaman penyakit menular di Indonesia. Dalam pidato ilmiah pengukuhannya, ia menegaskan bahwa lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang terus berulang di berbagai daerah bukan sekadar masalah medis atau kesehatan masyarakat biasa, melainkan cerminan nyata dari krisis ekologi yang sedang melanda.
Menurut Prof. Tri Wulandari, degradasi lingkungan dan perubahan iklim global memiliki korelasi langsung terhadap siklus hidup serta pola penyebaran nyamuk Aedes aegypti. Peningkatan suhu bumi yang ekstrem dan perubahan pola curah hujan yang tidak menentu terbukti mempercepat proses inkubasi virus di dalam tubuh nyamuk, sekaligus memperluas wilayah penularannya. Kondisi alam yang kian tidak seimbang ini kemudian menciptakan lingkungan yang sangat ideal bagi perkembangbiakan vektor penyakit tersebut.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa fenomena ini diperparah oleh laju urbanisasi yang tidak terkontrol serta buruknya tata kelola lingkungan di kawasan padat penduduk. Penumpukan sampah plastik, minimnya ruang terbuka hijau, dan sistem sanitasi yang tidak memadai menjadi faktor domestik utama yang mengakibatkan genangan air bersih tak terdeteksi. Akibatnya, upaya intervensi kesehatan yang dilakukan selama ini sering kali terlambat karena hulu masalahnya di tingkat lingkungan belum terselesaikan.
Ia juga mengkritisi pendekatan konvensional dalam penanganan DBD yang selama ini cenderung bersifat reaktif, seperti pelaksanaan pengasapan (fogging) secara massal atau pengobatan klinis di fasilitas kesehatan ketika wabah sudah meluas. Menurutnya, tindakan tersebut hanya menyelesaikan masalah di permukaan secara temporer dan tidak akan pernah menuntaskan epidemi selama akar masalah kerusakan ekosistemnya diabaikan oleh manusia.
Di akhir orasi ilmiahnya, Prof. Tri Wulandari mengajak seluruh elemen masyarakat, akademisi, dan pemangku kebijakan untuk segera mengubah paradigma penanganan penyakit berbasis lingkungan. Pemulihan mutu ekologi melalui pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, edukasi sanitasi yang masif, serta kebijakan tata ruang yang pro-lingkungan harus dijadikan pilar utama. Langkah kolaboratif ini dinilai menjadi investasi jangka panjang yang krusial demi menjaga ketahanan kesehatan nasional dari ancaman krisis iklim global.





