CIKARANG, SPN – Suasana penuh semangat dan antusiasme mewarnai kegiatan diseminasi Perhimpunan Donor Darah Indonesia (PDDI) DKI Jakarta yang diselenggarakan di President University. Ratusan mahasiswa memenuhi ruang auditorium untuk mengikuti kuliah inspiratif bertajuk “Setetes Darah, Sejuta Harapan”, sebuah edukasi kemanusiaan yang bertujuan membangun kesadaran generasi muda tentang pentingnya donor darah sukarela.
Kegiatan ini merupakan inisiatif PDDI Cabang Jakarta Utara sebagai implementasi program nasional Ketua Umum PDDI “Goes to Campus”, yang mendorong lahirnya budaya donor darah sukarela di lingkungan perguruan tinggi.
Sebagai narasumber, Sekretaris PDDI DKI Jakarta, Endang K.S., menyampaikan materi secara komunikatif dan inspiratif. Selama lebih dari satu jam, mahasiswa diajak memahami berbagai aspek donor darah, mulai dari krisis ketersediaan darah di Indonesia, sejarah berdirinya PDDI pada 20 September, perjalanan kepemimpinan organisasi, kiprah PDDI dari Jakarta hingga memperoleh pengakuan di tingkat internasional, hingga tantangan pemenuhan kebutuhan darah di DKI Jakarta.
Materi juga mengupas pentingnya darah bagi kehidupan, proses pengolahan dan distribusi darah dari pendonor hingga pasien, konsep donor darah sukarela, berbagai mitos dan fakta seputar donor darah, serta peran strategis PDDI dalam membangun gerakan kemanusiaan.
Salah satu bagian yang paling mendapat perhatian adalah paparan mengenai tingginya kebutuhan darah setiap hari di Jakarta dan kenyataan bahwa setiap kantong darah dapat menyelamatkan lebih dari satu nyawa melalui pemisahan komponen darah. Pesan tersebut menggugah kesadaran mahasiswa bahwa menjadi pendonor bukan sekadar tindakan sosial, melainkan investasi kemanusiaan yang memberikan harapan bagi banyak orang.

Atmosfer diskusi berlangsung sangat hidup. Mahasiswa President University menunjukkan ketertarikan yang tinggi dengan menyampaikan berbagai pertanyaan kritis kepada narasumber, antara lain mengenai strategi meningkatkan jumlah pendonor muda, tantangan menjaga ketersediaan darah nasional, pemanfaatan teknologi digital dalam mengedukasi masyarakat, peluang kolaborasi kampus dengan PDDI, hingga bagaimana mahasiswa dapat menjadi agen perubahan dalam membangun budaya donor darah sukarela di Indonesia.
Menanggapi berbagai pertanyaan tersebut, Endang K.S. menegaskan bahwa mahasiswa memiliki posisi yang sangat strategis karena mampu menjadi influencer kemanusiaan di lingkungan kampus maupun masyarakat luas.
“Mahasiswa bukan hanya calon pemimpin masa depan, tetapi juga penggerak perubahan hari ini. Ketika budaya donor darah tumbuh di kampus, sesungguhnya kita sedang membangun generasi yang peduli, sehat, dan memiliki empati sosial yang tinggi.”
Ketua PDDI DKI Jakarta, Irjen Pol. (P) Drs. Pudji Hartanto, M.M., dalam pesannya menyampaikan harapan besar agar President University dapat menjadi mitra strategis PDDI dalam memperluas gerakan donor darah sukarela.
“Kami sangat berharap President University dapat menjadi salah satu mitra strategis PDDI dalam mengembangkan budaya donor darah sukarela melalui program edukasi, pengabdian kepada masyarakat, serta kegiatan donor darah yang berkesinambungan. Sinergi antara dunia pendidikan dan organisasi kemanusiaan merupakan investasi sosial yang nilainya jauh melampaui angka-angka statistik.”
Kegiatan ini turut dihadiri jajaran pengurus PDDI Cabang Jakarta Utara, yaitu Ketua Edieyanto, Wakil Ketua Denny Sastro, Sekretaris Henny Irawanti, dan Bendahara Ie Ryadi Andhika, yang mendampingi pelaksanaan program sekaligus memperkenalkan berbagai kegiatan kemanusiaan PDDI kepada civitas akademika.
Dari pihak President University, hadir mendampingi mahasiswa Dr. Charles Ong, Board of Advisor President University, yang juga merupakan Past Council Chairperson (PCC) Lions Clubs, salah satu jenjang kepemimpinan tertinggi dalam organisasi Lions Club. Kehadirannya semakin memperkuat semangat kolaborasi antara dunia pendidikan, organisasi kemanusiaan, dan komunitas pelayanan sosial dalam membangun kepedulian masyarakat.
Melalui program PDDI Goes to Campus, PDDI berharap semakin banyak perguruan tinggi yang menjadi pusat lahirnya pendonor darah sukarela baru, sekaligus melahirkan generasi muda yang memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama.
Sebab pada akhirnya, setetes darah bukan sekadar cairan kehidupan, melainkan secercah harapan yang mampu menyelamatkan masa depan seseorang.






