JAKARTA, SPN | Cuaca panas ekstrem yang terjadi saat musim kemarau dan fenomena El Nino berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan. Salah satu yang paling berbahaya adalah heatstroke atau sengatan panas yang dapat mengancam jiwa.
Dokter spesialis kegawatdaruratan dan trauma dari Medanta Noida, Dr. Santosh Pandey, menjelaskan heatstroke merupakan kondisi darurat medis yang terjadi ketika suhu inti tubuh meningkat hingga lebih dari 40 derajat Celsius dan mulai mengganggu fungsi otak.
“Heat exhaustion dan heatstroke berada dalam spektrum yang sama, tetapi heatstroke merupakan keadaan darurat medis,” kata Pandey seperti dikutip dari Hindustan Times, Kamis (25/6/2026).
Menurut dia, seseorang yang mengalami heat exhaustion biasanya masih sadar dan responsif. Gejalanya meliputi keringat berlebih, lemas, pusing, sakit kepala, mual, kram otot, serta denyut nadi yang cepat.
Namun tiba pada kondisi itu dapat berkembang menjadi heatstroke jika suhu tubuh terus meningkat. Tanda-tandanya antara lain kebingungan, disorientasi, bicara pelo, kejang, hilang kesadaran, hingga perilaku yang tidak biasa.
Pandey menegaskan perubahan kondisi mental menjadi pembeda utama antara heat exhaustion dan heatstroke.
Ia juga meluruskan anggapan bahwa penderita heatstroke selalu berhenti berkeringat. Menurutnya, sebagian pasien, terutama yang mengalami heatstroke akibat aktivitas fisik berat, masih dapat mengeluarkan keringat.
“Kulit panas dan kering memang bisa menjadi tanda heatstroke yang sudah lanjut, tetapi tidak boleh dijadikan satu-satunya acuan diagnosis,” ujarnya.
Adapun cara menangani heatstroke, langkah pertama adalah segera menghubungi layanan medis darurat.
Korban kemudian harus dipindahkan ke tempat yang teduh atau berpendingin udara. Pakaian yang berlebihan perlu dilepas, lalu tubuh didinginkan menggunakan air dingin, handuk basah, kipas angin, atau kompres es pada area leher, ketiak, dan selangkangan.
Jika korban masih sadar dan mampu menelan, berikan cairan dingin sedikit demi sedikit.
“Jangan memaksa memberi minum apabila korban kebingungan atau tidak sadar,” kata Pandey.
Selain itu, perendaman tubuh dalam air dingin juga dapat menjadi metode efektif untuk menurunkan suhu tubuh pada kasus heatstroke berat.
Heatstroke lebih berisiko terjadi pada lansia, anak-anak, penderita obesitas, diabetes, penyakit jantung, gangguan ginjal, pekerja lapangan, serta atlet.
Masyarakat juga diimbau mengurangi aktivitas berat di luar ruangan saat suhu dan kelembapan udara tinggi karena kondisi tersebut dapat menghambat proses pendinginan alami tubuh melalui penguapan keringat.
Pandey menyarankan olahraga luar ruangan dilakukan pada pagi hari saat suhu udara masih relatif rendah.
“Kurangi intensitas olahraga saat gelombang panas dan segera berhenti jika muncul pusing, kelelahan berlebihan, sakit kepala, mual, atau sesak napas yang tidak biasa,” tutupnya.





