JAKARTA, SPN — Teras Lenteng Agung, Jakarta Selatan, yang disiapkan sebagai lokasi relokasi pedagang Pasar Barito setelah kawasan pasar lama ditata menjadi Taman ASEAN atau Taman Bendera Pusaka, masih menyisakan persoalan. Sejumlah pedagang mengeluhkan lokasi baru yang dinilai sepi pembeli dan kurang mendukung keberlangsungan usaha mereka.
Mendapat sejumlah keluhan tersebut, Anggota DPRD DKI Jakarta August Hamonangan pun meminta Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan mencari solusi atas keluhan pedagang Pasar Burung Barito yang direlokasi ke Teras Lenteng Agung.
Menurut August, pedagang Pasar Burung Barito merupakan pelaku usaha binaan pemerintah sehingga relokasi seharusnya tetap memperhatikan keberlangsungan usaha mereka.
“Harusnya tetap diperhatikan, tetap disupport supaya mereka bisa bertumbuh dan kalau dikatakan naik kelas, jangan dipaksakan untuk pindah dari Pasar Burung Barito ke Teras Lenteng Agung,” kata August dalam gelar audiensi bersama jajaran pemerintah, Kota Administrasi Jakarta Selatan, Senin, (5/10/2026).
Ia mengatakan pedagang mengeluhkan kondisi Teras Lenteng Agung yang berada di bawah dan tidak mudah terlihat dari jalan. Kondisi tersebut dinilai membuat pembeli sulit mengetahui keberadaan sentra perdagangan tersebut.
“Di Teras Lenteng Agung mereka sudah lihat langsung tempatnya masuk ke bawah, agak ke dalam dan sama sekali tidak ada pembeli,” ujarnya.
August mendorong Pemkot Jakarta Selatan mencari lokasi alternatif yang tidak terlalu jauh dari kawasan Pasar Burung Barito karena pedagang telah memiliki pasar dan pelanggan di kawasan tersebut.
Ia juga meminta pemerintah memperhatikan keberadaan pedagang Taman Puring yang saat ini masih beraktivitas di kawasan tersebut.
“Jangan sampai keberadaan pedagang Taman Puring bisa mirip dengan nasib pedagang Pasar Burung Barito. Itu kita harapkan tidak terulang,” ungkapnya.
Selain penyempurnaan relokasi pedagang eks pasar Barito, sejumlah sejumlah aspirasi masyarakat lainnya juga mencuat, seperti data desil penerima bantuan, tempat ibadah, tawuran, UMKM, dan pembangunan jalan.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas UMKM Jakarta Selatan Jaharudin mengakui Teras Lenteng Agung saat ini masih sepi.
Menurut dia, lokasi tersebut merupakan tempat pembinaan sekaligus relokasi pedagang dari Pasar Burung Barito. Terdapat sekitar 125 kios yang disiapkan untuk pedagang kuliner dan fauna.
“Kalau lihat dari jalan depan itu enggak tampak, jadi lokasinya memang turun ke bawah. Orang yang lewat, terutama yang baru, enggak tahu kalau di situ ada pusat kuliner dan pusat fauna,” ujar Jaharudin.
Ia mengatakan pemerintah tengah mengupayakan berbagai kegiatan di lokasi tersebut untuk meningkatkan kunjungan masyarakat. Salah satunya dengan mengarahkan kegiatan pelayanan pemerintah agar berlangsung di Teras Lenteng Agung.
Jaharudin juga menyampaikan usulan agar kegiatan reses anggota DPRD dapat dilakukan di lokasi tersebut sebagai bagian dari promosi, selama sesuai ketentuan.
“Kalau bisa aktivitas kegiatan dilaksanakan di Teras Lenteng Agung supaya pedagang juga hidup di situ,” katanya.
Selain persoalan lokasi, Jaharudin mengatakan kondisi kawasan yang panas pada siang hari juga memengaruhi aktivitas pedagang. Sebagian pedagang memilih mulai berjualan sekitar pukul 15.00 hingga pukul 22.00 WIB.
Pedagang Taman Puring
Terkait Taman Puring, Jaharudin mengatakan pihaknya juga menerima aspirasi pedagang yang berharap tetap dapat berjualan di kawasan tersebut.
Ia menyebut terdapat sekitar 126 pedagang yang masih beraktivitas di Taman Puring.
Menurut Jaharudin, penataan kawasan sebaiknya tetap mempertimbangkan keberadaan aktivitas ekonomi yang telah lama berkembang di sana.
“Jangan sampai menghilangkan aktivitas ekonomi yang sudah menjadi ikon di situ,” ujarnya.
Namun, ia menegaskan kewenangan penggunaan aset di kawasan tersebut berada pada perangkat daerah yang menangani taman dan kota.
Di sisi lain, Sudin UMKM Jakarta Selatan mendorong pedagang untuk memperluas pemasaran melalui platform digital.
Jaharudin mengatakan terdapat sekitar 69 ribu pelaku UMKM yang telah masuk dalam pembinaan di Jakarta Selatan, meliputi sektor kuliner, fesyen, dan kerajinan.
“Pelaku UMKM yang terdampak relokasi coba berbenah diri mengarah ke penggunaan digital untuk perdagangan,” katanya.
August menegaskan akan mengawal persoalan tersebut melalui DPRD DKI Jakarta.
Jika tidak ada penyelesaian, ia mengatakan aspirasi pedagang akan dibawa dalam rapat komisi, pembahasan anggaran hingga rapat paripurna.

“Kalau persoalan itu tidak bisa diselesaikan, saya akan tetap memperjuangkan, mewakili kepentingan mereka sebagai wakil rakyat,” pungkas August. ***







