Paradise Property (INPP) Andalkan Recurring Income Dorong Pertumbuhan

Avatar photo
Presiden Direktur dan CEO Indonesian Paradise Property , Anthony Prabowo Susilo (foto: inpp)
Presiden Direktur dan CEO Indonesian Paradise Property , Anthony Prabowo Susilo (foto: inpp)

SPN, Jakarta – Banyak pengembang property masih terpaku pada strategi lama yakni menjual sebanyak mungkin unit untuk mengejar pertumbuhan. Tetapi beda dengan PT Indonesian Paradise Property Tbk. (INPP) yang justru mengambil strategi berbeda di tengah melambatnya penjualan properti dan menyusutnya daya serap pasar apartemen saat ini. Ujar Presiden Direktur dan CEO Indonesian Paradise Property , Anthony Prabowo Susilo di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Anthony mengatakan, bergantung pada penjualan yang fluktuatif, INPP membangun pendapatan yang lebih stabil melalui recurring income. Strategi ini bukan hanya menjadi bantalan pada saat pasar lesu, tetapi juga fondasi bagi pertumbuhan berkelanjutan.

Anthony Prabowo Susilo mengatakan pendekatan tersebut menjadi keunggulan kompetitif yang mampu mengubah aset properti dari sekadar produk jual beli menjadi sumber arus kas jangka panjang. “Dengan porsi recurring income yang kuat untuk menjalankan bisnis yang berkelanjutan,” ujarny

Menurutnya strategi tersebut yang diterapkan INPP terlebih dahulu sebelum mengembangkan proyek residensial. Strateginya perseroan akan masuk ke tempat yang dilihat berpotensi memberikan recurring income cukup untuk selanjutnya dibangun apartemen. Selain itu, strategi ekspansi agresif tetapi terukur juga dijalankan oleh INPP.

Salah satu konsep Mall tiga lantai di Balikpapan ( foto: inpp)
Salah satu konsep Mall tiga lantai di Balikpapan ( foto: inpp)

INPP tercatat telah berekspansi di delapan kota besar seperti Batam, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bali, hingga Makassar. Tidak berhenti di situ, ekspansi akan terus berlanjut ke Semarang dan Balikpapan. Perseroan menggarap tiga lini utama yakni komersial, perhotelan, dan residensial dengan konsep 4M yakni mixed use development, mid scale, middle up, dan major cities,” katanya.

Sedangkan di Balikpapan, Anthony menyebut melakukan pendekatan yang berbeda. Alih-alih membangun mal besar, perusahaan justru mengusung konsep mixed use dengan CBD zone berkonsep mid to low density. “Kami tidak membangun mal besar, tapi lebih ke ruko tiga lantai dengan untuk kafe dan lifestyle. Pasarnya lebih siap ke arah sana,” jelas Anthony.

Selain itu, INPP juga membidik segmen hotel bintang empat plus melalui rencana pembangunan Hyatt Place di kawasan tersebut. Balikpapan dinilai memiliki potensi besar sebagai kota maju di Kalimantan dengan basis ekonomi yang kuat.  Di sisi proyek residensial,  Anthony juga blak-blakan soal kondisi pasar properti, khususnya apartemen high rise yang dinilai semakin tidak feasible. Fenomena ini membuat INPP lebih memilih mengembangkan proyek mid rise yang lebih realistis dengan daya serap pasar saat ini.