SPN Jakarta – Pemerintah menyiapkan langkah mitigasi terpadu untuk mengantisipasi potensi musim kemarau panjang pada 2026 yang diperkirakan datang lebih awal dan berlangsung lebih lama dari kondisi normal.
Pelaksana Harian Direktur Jenderal Sumber Daya Air, Adenan Rasyid, mengatakan kondisi tersebut perlu diantisipasi sejak dini karena berpotensi mengganggu ketahanan air, pangan, hingga lingkungan.
“Musim kemarau 2026 diperkirakan lebih awal, lebih panjang, dan tingkat kekeringannya di atas normal. Ini menjadi ancaman serius sehingga diperlukan langkah mitigasi yang terencana dan terintegrasi,” ujarnya dalam rapat koordinasi di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Berdasarkan kajian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini akan dipengaruhi fenomena El Niño yang diperkirakan mulai terjadi pada Juli dengan intensitas lemah hingga moderat. Kondisi tersebut berpotensi membuat musim kemarau lebih kering dibandingkan rata-rata normal.
Dampak yang ditimbulkan diperkirakan meluas ke berbagai sektor, mulai dari penurunan debit sungai, berkurangnya volume waduk, hingga menipisnya cadangan air tanah. Di sektor pertanian, kondisi ini berisiko mengganggu pola tanam, sementara di sektor lingkungan berpotensi meningkatkan kebakaran hutan dan lahan, terutama di kawasan gambut.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah menyiapkan enam strategi utama, meliputi optimalisasi pengelolaan tampungan air berbasis data, penguatan jaringan irigasi, peningkatan kesiapan infrastruktur, penyesuaian pola tanam, percepatan pembangunan infrastruktur sumber daya air, serta optimalisasi fungsi bangunan air.
Adenan menegaskan, upaya mitigasi ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk kementerian, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan.
“Kita tidak bisa menghindari musim kemarau, tetapi bisa memastikan dampaknya tidak menjadi krisis. Antisipasi, kecepatan, dan koordinasi adalah kunci,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyatakan pihaknya siap memperkuat koordinasi dalam penyediaan data klimatologi guna mendukung langkah mitigasi yang lebih tepat sasaran.







