JAKARTA, SPN – Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (19/9/2026). Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 8.000 jamaah dari berbagai wilayah Jabodetabek.
Sejumlah ulama dan penceramah turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya As-Sayyid As-Syarif Prof. Syekh Muhammad Fadhil al-Jailani al-Hasani Hafidzahullah dan Ustaz Dr. H. Das’ad Latif, S.Sos., S.Ag., M.Si., Ph.D.
Syekh Muhammad Fadhil al-Jailani al-Hasani dikenal sebagai keturunan ke-25 Syekh Abdul Qadir Jaelani. Kehadirannya menjadi bagian dari rangkaian tausiah dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Ketua PP Muslimat NU Arifatul Choiri Fauzi mengatakan, peringatan Maulid Nabi menjadi momentum untuk memperkuat harkat dan martabat perempuan sekaligus meneguhkan kembali kedudukan perempuan dalam Islam.
Menurutnya, kehadiran Nabi Muhammad SAW membawa perubahan terhadap pandangan masyarakat mengenai perempuan. Ia merujuk pada Surat Al-Anbiya ayat 107 yang menegaskan bahwa Islam dihadirkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.
“Yang artinya Allah SWT tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Semua kedudukannya sama di hadapan Allah SWT, kecuali tingkat ketakwaannya,” ujar Arifatul.
Antusiasme jamaah terlihat dari kedatangan peserta menggunakan berbagai moda transportasi, mulai dari bus, kereta, kendaraan pribadi, angkutan umum, sepeda motor hingga odong-odong.
Arifatul mengatakan, sebagian jamaah bahkan telah tiba di Masjid Istiqlal sejak pukul 03.00 WIB untuk melaksanakan salat tahajud dan dilanjutkan salat Subuh.
Selain pembacaan shalawat dan pengajian, kegiatan juga diisi santunan kepada sekitar 20 anak yatim dari wilayah Jakarta serta layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi jamaah.
“Ini menjadi tradisi Muslimat NU di mana pun acaranya, kita selalu mengawali dengan santunan anak yatim,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin Amin menilai Muslimat NU memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi keagamaan dan pendidikan masyarakat melalui berbagai lembaga pendidikan serta majelis taklim.
“Saya punya impresi yang sangat kuat tentang betapa Muslimat NU memiliki peran yang sangat sentral,” ujar Kamaruddin.
Ia juga menyampaikan bahwa kontribusi Muslimat NU dalam penguatan nilai-nilai keagamaan berjalan seiring dengan kehidupan demokrasi di Indonesia.
“Artinya ada korelasi yang sangat fundamental yang tidak bisa dibantah oleh siapapun bahwa Islam Indonesia sangat compatible dengan nilai-nilai demokrasi,” katanya. ***










