Lakon Sedarah Pecah di Setu Babakan, Anwar BAB Ngaku Sampai Keringetan

Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Mochamad Miftahulloh Tamary bersama Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) Beky Mardani dan sejumlah tokoh serta seniman Betawi, termasuk pengelola Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, dalam puncak Gebyar Seni Budaya Setu Babakan, Jakarta Selatan, Sabtu (19/9/2026).

JAKARTA, SPN — Pertunjukan Komedi Betawi berjudul “Sedarah” menjadi puncak Gebyar Seni Budaya Setu Babakan dalam rangka memperingati 26 tahun Perkampungan Budaya Betawi (PBB) Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (19/9) malam.

Pertunjukan yang digelar Unit Pengelola Kawasan Perkampungan Budaya Betawi (UPKPBB), Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, tersebut menghadirkan sejumlah seniman Betawi, antara lain Maudy Koesnaedi, Suti Karno, Anwar BAB, Zee Zee Shahab, Bang Ocid, Mpok Linda, Hj Tonah, Bang Burhan, Sony Wak Wak, Aji Bodong, dan Heri Ujang (Ismet).

Antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya penonton yang hadir menyaksikan pertunjukan yang dibuka secara gratis tersebut dengan berbagai pertunjukan seni budaya Betawi dari gambus Arrominia hingga Al Jabbar dan masih banyak lagi.

Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Mochamad Miftahulloh Tamary membuka kegiatan mewakili Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang berhalangan hadir karena menghadiri undangan Wali Kota New York. Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno juga tidak hadir karena mengikuti pembukaan MTQ Nasional di Semarang.

Komedi Betawi “Sedarah” mengangkat cerita keluarga Betawi melalui kisah Anwar dan Zee Zee yang menjalin hubungan dan memutuskan untuk bertunangan. Persoalan muncul ketika keduanya mengetahui bahwa mereka merupakan saudara kandung dari ayah yang sama, tetapi berbeda ibu.

Cerita tersebut dikemas dengan dialog dan interaksi antarpemain yang menghibur, sekaligus menyisipkan pesan mengenai keluarga dan kebudayaan Betawi.

Salah satu daya tarik pertunjukan adalah keterlibatan Maudy Koesnaedi dan Hj Tonah. Keduanya kembali berada dalam satu panggung setelah dikenal masyarakat melalui sinetron “Si Doel Anak Sekolahan”.

Dalam sinetron tersebut, Hj Tonah dikenal sebagai pemeran ibu Ahong, sementara Maudy memerankan Zaenab. Dalam “Sedarah”, keduanya kembali dipertemukan sebagai karakter calon besan.

Nuansa “Si Doel” masih terasa ketika Hj Tonah beberapa kali memanggil Maudy dengan sebutan “Zaenab”. Celetukan tersebut kemudian menjadi bagian dari interaksi komedi di atas panggung.

Pertunjukan juga menghadirkan Suti Karno yang tampil menggunakan kursi roda. Kehadirannya menjadi bagian dari rangkaian pementasan sekaligus menunjukkan keterlibatannya dalam kegiatan seni dan budaya Betawi.

Bagi Anwar BAB, pementasan tersebut menjadi pengalaman pertamanya bermain dalam lenong atau Komedi Betawi bersama sejumlah seniman senior.

“Ini pertama kalinya gue main lenong Betawi bersama artis-artis senior lenong Betawi. Sampai keringetan. Alhamdulillah, Anwar bisa ada di sini memeriahkan HUT ke-26 Setu Babakan,” ujar Anwar kepada wartawan.

Sementara itu, Maudy Koesnaedi menyebut keterlibatannya dalam Komedi Betawi “Sedarah” menjadi kesempatan untuk kembali tampil bersama para seniman Betawi. Menurut dia, pementasan tersebut juga menjadi ruang untuk belajar mengenai lenong, komedi, dan adaptasi budaya.

Suti Karno hadir dan memberikan dukungan pada puncak Gebyar Seni Budaya Setu Babakan di Perkampungan Budaya Betawi bersama sejumlah seniman senior, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (19/9/2026).

Kegiatan Gebyar Seni Budaya Setu Babakan menjadi bagian dari upaya memperkenalkan dan mempertahankan seni budaya Betawi melalui pertunjukan yang dapat dinikmati masyarakat.

Melalui “Sedarah”, seni pertunjukan Betawi tidak hanya dihadirkan sebagai hiburan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan para seniman lintas generasi sekaligus memperkenalkan kembali budaya Betawi kepada masyarakat. ***

No More Posts Available.

No more pages to load.