JAKARTA, SPN — PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mulai membangun hunian vertikal terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan.
Pembangunan ditandai dengan groundbreaking pada Jumat (21/8/2026). Proyek Hunian Terjangkau Manggarai Blok G dan F ini berdiri di atas lahan sekitar 2,2 hektare yang terbagi menjadi dua blok.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan, proyek tersebut terdiri atas delapan tower dengan total 3.784 unit hunian.
“Konsepnya adalah akan ada 3 plus 5 hunian vertikal yang terdiri dari 24 lantai dengan total 3.784 unit hunian,” ujar Bobby saat groundbreaking proyek rusun Manggarai, Jumat (21/8/2026).
Blok G
Blok G terdiri atas tiga tower dengan total 1.276 unit.
Tower A memiliki 352 unit, terdiri atas 242 unit tipe studio, 44 unit tipe 36, dan 66 unit tipe 45.
Tower B memiliki 418 unit, terdiri atas 242 unit tipe studio, 66 unit tipe 36, dan 110 unit tipe 45.
Sementara Tower C memiliki 506 unit, terdiri atas 286 unit tipe studio, 88 unit tipe 36, dan 132 unit tipe 45.
Blok F
Adapun Blok F terdiri atas lima tower dengan total 2.508 unit.
Tower 1 memiliki 572 unit, terdiri atas 330 unit tipe 36, 154 unit tipe 45, dan 88 unit tipe 52.
Tower 2 juga memiliki 572 unit dengan konfigurasi 330 unit tipe 36, 154 unit tipe 45, dan 88 unit tipe 52.
Tower 3 memiliki 528 unit, terdiri atas 330 unit tipe 36, 110 unit tipe 45, dan 88 unit tipe 52.
Tower 4 memiliki 308 unit yang terdiri atas 220 unit tipe 36, 44 unit tipe 45, dan 44 unit tipe 52.
Sedangkan Tower 5 memiliki 528 unit, terdiri atas 330 unit tipe 36, 110 unit tipe 45, dan 88 unit tipe 52.
Selain hunian, proyek ini juga dilengkapi 150 unit retail, terdiri atas 72 unit di Blok G dan 78 unit di Blok F.
Lokasi hunian menjadi salah satu keunggulan proyek karena berada di kawasan Stasiun Manggarai. Berdasarkan informasi proyek, lokasi hunian berjarak sekitar 500 meter atau lima menit dari Stasiun Manggarai.
Kawasan tersebut juga terintegrasi dengan berbagai moda transportasi, termasuk KRL Commuter Line, KA Bandara, KA Antarkota, serta akses menuju MRT, LRT, dan TransJakarta.
Dalam radius sekitar 2 kilometer atau sekitar 10 menit, lokasi hunian terhubung dengan sejumlah kawasan bisnis seperti Sudirman, Thamrin, Kuningan, dan SCBD. Sementara dalam radius sekitar 5 kilometer atau sekitar 15 menit terdapat sejumlah kawasan strategis Jakarta.
Pengembang juga menempatkan akses menuju pusat perbelanjaan, rumah sakit, perguruan tinggi, dan jalan arteri sebagai bagian dari nilai strategis hunian.
Sejumlah akses jalan utama yang disebut antara lain Jalan Dr. Saharjo, Jalan Tambak, Jalan Prof. Dr. Satrio, dan kawasan Casablanca.
Bobby mengatakan, pembangunan seluruh proyek ditargetkan selesai dalam waktu 18 bulan sejak groundbreaking.
Hunian tersebut ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah sesuai dengan kualifikasi dan ketentuan yang ditetapkan pemerintah.
“Kita akan menjaga governance bahwa hunian di tengah kota ini akan meng-address masyarakat-masyarakat berpenghasilan rendah yang sesuai kualifikasinya yang telah disyaratkan oleh pemerintah,” katanya.

Menurut Bobby, pembangunan hunian di tengah kota diharapkan menjadi bagian dari penyediaan tempat tinggal yang layak dan terjangkau bagi MBR dengan akses transportasi yang memadai.
“Semoga groundbreaking ini merupakan momentum untuk kita memulai fisik pengerjaan dari hunian layak, hunian yang terjangkau, dan terutama hunian di tengah kota untuk masyarakat berpenghasilan rendah,” pungkasnya. ***









