JAKARTA, SPN — Promo Teh Pucuk Harum bertajuk “Pucuk Dicinta Miliaran Tiba” menawarkan beragam hadiah, mulai dari uang tunai hingga hadiah utama bernilai besar. Namun, di lapangan, sejumlah konsumen justru mengeluhkan sulitnya menukarkan hadiah yang mereka peroleh.
SPN melakukan penelusuran dan menemukan sejumlah toko maupun gerai retail menolak menukarkan hadiah yang tercantum pada kertas hologram di balik plastik botol.
Padahal, hadiah yang diperoleh konsumen tergolong kecil, seperti uang Rp1.000, Rp5.000 hingga gratis satu botol.
“Saya sudah punya lima hadiah, mulai dari seribu rupiah sampai gratis satu botol. Tapi tidak ada yang mau menukar,” ujar Patria.
Persoalan tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan. Jika hadiah gratis satu botol saja sulit ditukarkan, bagaimana dengan konsumen yang nantinya mendapatkan hadiah bernilai jauh lebih besar?
“Kalau dapat mobil hingga uang miliaran, apakah mungkin? Gratis satu botol saja susah,” katanya.
Namun, penelusuran SPN menemukan fakta berbeda di salah satu agen tradisional.
Toko Haji Ondi di Jalan Suci, RT 11/RW 06, Susukan, Ciracas, Jakarta Timur, justru menerima konsumen yang hendak menukarkan hadiah promo tersebut.
Ayu, pemilik toko, mengatakan pihaknya tetap menerima penukaran hadiah. Bahkan, konsumen yang membeli produk dari tempat lain juga beberapa kali datang untuk melakukan klaim.
“Ya kalau kami menerima, tidak apa-apa kalau memang belinya di sini. Tapi dari tempat lain juga memang banyak yang datang,” ujar Ayu saat ditemui, Minggu, (9/8/2026).
Menurut Ayu, mekanisme klaim relatif sederhana karena toko dapat berkoordinasi langsung dengan sales produk.
“Pada akhirnya kita terima lah, nanti kan klaim, hubungi sales. Hanya sebotol dua botol gratis paling, simpel,” katanya.
Artinya, bagi agen atau toko yang memiliki akses langsung ke distributor dan sales, penukaran hadiah relatif mudah dilakukan. Toko tinggal menghubungi sales untuk mengklaim hadiah yang ditukarkan konsumen.
Pantauan SPN pada Minggu pagi menunjukkan sejumlah konsumen masih berdatangan ke Toko Haji Ondi. Beberapa di antaranya membawa hadiah gratis satu botol dan uang Rp5.000 untuk ditukarkan.
Temuan ini memperlihatkan adanya perbedaan pengalaman konsumen. Sebagian toko menolak, sementara agen yang memiliki akses kepada sales dapat melayani penukaran.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan sederhana, kalau hadiah gratis satu botol saja konsumen harus mencari-cari agen yang mau menukar, bagaimana nasib pemenang hadiah mobil atau uang miliaran rupiah?
Karena itu, konsumen membutuhkan informasi yang jelas mengenai mekanisme dan titik penukaran hadiah agar promo yang ditawarkan tidak berhenti sebatas hadiah yang tercetak di balik kemasan, tetapi benar-benar mudah diklaim ketika konsumen dinyatakan sebagai pemenang. ***



