JAKARTA, SPN – Masyarakat diimbau lebih memperhatikan usia pakai galon guna ulang yang digunakan untuk air minum sehari-hari. Pasalnya, penggunaan galon yang sudah terlalu lama dinilai berpotensi meningkatkan risiko pelepasan senyawa kimia ke dalam air minum.
Dokter Forensik DNA sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr. Djaja Surya Atmadja, SPFM(K), SH, PhD, mengingatkan bahwa galon guna ulang, khususnya yang berbahan plastik polikarbonat, idealnya tidak digunakan lebih dari satu tahun.
Menurutnya, produsen sebaiknya menarik kembali galon yang telah melewati masa penggunaan tersebut agar tidak terus beredar di masyarakat.
“Mestinya pabrik itu kalau sudah satu tahun ditarik kembali. Tidak boleh dipakai lagi,” ujar Dr. Djaja dalam sebuah diskusi yang dikutip, Minggu (28/6).
Ia menjelaskan, penggunaan galon secara berulang dalam jangka panjang, disertai proses pencucian dan paparan suhu, dapat menyebabkan struktur plastik mengalami penurunan kualitas sehingga berpotensi melepaskan senyawa kimia ke dalam air.
Salah satu senyawa yang menjadi perhatian adalah Bisphenol A (BPA), yang digunakan dalam pembuatan plastik polikarbonat tertentu. Menurut Dr. Djaja, BPA memiliki sifat menyerupai hormon estrogen sintetis sehingga dikhawatirkan dapat memengaruhi sistem hormon apabila terpapar dalam jumlah tertentu.
“BPA itu secara kimia merupakan estrogen sintetis,” katanya.
Ia menambahkan, kelompok yang dinilai paling rentan terhadap paparan BPA adalah anak-anak karena masih berada dalam masa pertumbuhan. Paparan tersebut disebut berpotensi memengaruhi konsentrasi, proses tumbuh kembang, hingga perilaku anak.
Karena itu, masyarakat diimbau tidak hanya memperhatikan kualitas air minum, tetapi juga kondisi fisik serta usia pakai galon guna ulang yang digunakan. Pemeriksaan rutin terhadap galon, termasuk memastikan tidak terdapat retak, kusam, atau kerusakan lainnya, menjadi langkah yang disarankan untuk menjaga keamanan air minum keluarga. ***





