Duka di Balik BTN Jakim 2026: Banyak Peserta Tumbang, Satu Pelari Tutup Usia

oleh -12 Dilihat
banner 468x60

JAKARTA, SPN – Pelaksanaan ajang lari BTN Jakarta International Marathon (Jakim) 2026 menyisakan cerita duka. Di tengah antusiasme ribuan peserta, kompetisi ini diwarnai dengan banyaknya pelari yang ambruk di lintasan, bahkan salah satu di antaranya dilaporkan meninggal dunia.

Kabar duka tersebut dikonfirmasi langsung oleh pihak penyelenggara melalui akun resmi Instagram BTN Jakim. Pelari yang meninggal dunia diketahui bernama Agus Putranadi, pemuda kelahiran tahun 1997.

“Turut berduka cita atas meninggalnya Agus Putranadi (1997-2026) pada Minggu, 14 Juni 2026,” tulis rilis resmi dari manajemen BTN Jakim yang dikutip pada Senin (15/6/2026).

Berdasarkan laporan di lapangan, mayoritas peserta yang mengalami kolaps berada di kategori Full Marathon. Faktor penyebabnya cukup beragam, mulai dari cedera fisik, kelelahan ekstrem akibat serangan hawa panas (heatstroke), hingga kegagalan mencapai batas waktu (Cut-Off Time) maupun batas jarak (Cut-Off Point) yang telah ditentukan.

Sebelum perlombaan dimulai, pihak panitia sebenarnya sudah memberikan peringatan dini mengenai potensi cuaca ekstrem di Jakarta dan meminta seluruh pelari untuk mengantisipasi heatstroke. Panitia juga menegaskan komitmen mereka untuk menyediakan layanan medis darurat di sepanjang rute.

Sorotan Netizen dan Keluhan Keterlambatan Medis

Pasca-acara, media sosial diramaikan oleh kesaksian para peserta yang melihat langsung perjuangan pelari lain di lintasan. Melalui platform Threads, seorang peserta dengan akun @risma*** membagikan momen menegangkan saat ia melihat banyak pelari tergeletak mulai dari kilometer 17. Ia juga menambahkan bahwa suara sirene ambulans terdengar bersahut-sahutan dari kilometer 20 hingga area Gelora Bung Karno (GBK).

Selain ungkapan duka, gelaran ini juga menuai kritik dari sebagian peserta terkait kesiapan tim medis. Beberapa netizen menyayangkan lambatnya respons penanganan darurat di titik-titik kritis lintasan. Salah satu akun menceritakan pengalamannya saat mencoba memanggil petugas medis untuk menolong pelari yang kondisinya terus memburuk dan kehilangan respons, namun bantuan tak kunjung tiba dalam waktu setengah jam.

Hingga berita ini diturunkan, pelari yang meninggal dunia serta peserta lain yang mengalami cedera atau tidak sadarkan diri telah dievakuasi ke rumah sakit terdekat. Informasi di media sosial juga menyebutkan bahwa sejumlah pelari masih menjalani perawatan intensif di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan ruang ICU.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.