WHO Sampaikan Lebih dari 1.300 Orang Meninggal Akibat Heatwave di Eropa

Foto istimewa dokumentasi Pixabay.

JAKARTA, SPN – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 1.300 orang meninggal dunia di berbagai negara Eropa akibat heatwave atau gelombang panas ekstrem yang melanda kawasan tersebut sejak 21 Juni 2026.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan sekitar 150 juta penduduk Eropa saat ini hidup di bawah suhu panas ekstrem. Kondisi tersebut telah menyebabkan korban jiwa, penutupan sekolah, hingga tekanan besar terhadap jaringan listrik.

“Saat ini 150 juta orang hidup di bawah suhu panas ekstrem, ratusan orang telah meninggal, sekolah-sekolah ditutup, dan jaringan listrik mengalami tekanan berat yang menjadi pembunuh senyap,” ujar Tedros melalui akun media sosial X belum lama ini, di kutip, Selasa, (30/6/2026).

Dampaknya sering kali tidak disadari hingga menimbulkan korban. Menurutnya, rumah, tempat kerja, dan sekolah di Eropa pada umumnya tidak dirancang untuk menghadapi suhu setinggi yang terjadi saat ini.

Sponsored Banner Pulauseribu.co.id

WHO menyebut Eropa merupakan benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia, hampir dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Dampak perubahan iklim dan pemanasan global membuat fenomena heatwave yang sebelumnya terjadi sekali dalam satu generasi kini hampir muncul setiap tahun.

Karena itu, WHO menyerukan pemerintah di seluruh Eropa untuk segera menerapkan rencana aksi kesehatan menghadapi heatwave sebagai bagian dari upaya melindungi masyarakat dari dampak perubahan iklim.

WHO juga membagikan sejumlah panduan untuk mengurangi risiko selama heatwave, di antaranya menghindari aktivitas luar ruangan saat suhu mencapai puncaknya, berteduh, serta berada di ruangan yang sejuk selama dua hingga tiga jam setiap hari.

Untuk menjaga rumah tetap sejuk, WHO menyarankan memanfaatkan udara malam hari dengan membuka ventilasi setelah matahari terbenam. Pada siang hari, jendela sebaiknya ditutup dan ditutupi tirai ketika suhu di luar lebih tinggi dibandingkan di dalam ruangan, serta mematikan perangkat listrik yang tidak diperlukan.

WHO juga mengingatkan penggunaan kipas angin listrik hanya disarankan ketika suhu berada di bawah 40 derajat Celsius. Jika suhu melebihi angka tersebut, kipas angin justru dapat meningkatkan paparan panas pada tubuh.

Bagi pengguna pendingin ruangan (AC), WHO merekomendasikan pengaturan suhu pada 27 derajat Celsius disertai penggunaan kipas angin. Kombinasi tersebut dinilai dapat membuat ruangan terasa sekitar empat derajat Celsius lebih sejuk sekaligus menghemat konsumsi energi hingga 70 persen.

WHO turut meminta masyarakat memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan, seperti lanjut usia di atas 65 tahun, penderita penyakit jantung, paru-paru, atau ginjal, penyandang disabilitas, serta mereka yang tinggal seorang diri.

Untuk menjaga kondisi tubuh selama heatwave, WHO menyarankan mengenakan pakaian yang ringan dan longgar, mandi atau membasahi tubuh dengan air dingin, serta mengonsumsi air putih secara rutin, sedikitnya satu gelas setiap jam atau sekitar dua hingga tiga liter per hari. ***

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.