JAKARTA, SPN — Langit sore perlahan berubah jingga di atas kawasan Istana Anak, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Dari kejauhan, alunan musik mulai terdengar bersamaan dengan langkah ribuan pengunjung yang memadati area festival Sunset di Kebun.
Pengunjung juga terlihat memadati pintu 1 TMII maupun pintu lainnya, menjadi sebuah pemandangan yang berbeda dari hari biasanya.
Sebagian memilih menggelar alas di hamparan rumput. Sebagian lainnya berjalan menyusuri area instalasi seni dan pasar kreatif. Anak-anak berlarian di ruang terbuka, sementara kelompok keluarga dan komunitas muda menikmati suasana senja yang menjadi ciri khas Sunset di Kebun Series 2026.
Selama dua hari penyelenggaraan Sunset di Kebun pada 20-21 Juni 2026, festival yang digagas PT Mitra Natura Raya, bagian dari Dyandra & Co., itu kembali membuktikan dirinya bukan sekadar konser musik. Sunset di Kebun menghadirkan pengalaman yang memadukan hiburan, budaya, edukasi lingkungan, dan ruang interaksi publik dalam satu kawasan terbuka.
Ketika para musisi mulai tampil di atas panggung, suasana yang tercipta terasa berbeda dibanding banyak festival musik lainnya. Ribuan penonton memadati area pertunjukan, namun tetap dalam suasana yang tertib dan nyaman.
Tidak terlihat dominasi atribut kelompok atau kibaran bendera berukuran besar yang menutupi pandangan penonton. Sebaliknya, panggung tetap menjadi pusat perhatian. Pengunjung dari berbagai usia dapat menikmati pertunjukan dengan leluasa, baik dari barisan depan maupun dari area rumput yang berada lebih jauh dari panggung.
Mereka bernyanyi bersama saat lagu-lagu favorit dimainkan, sesekali mengangkat telepon genggam untuk mengabadikan momen, lalu kembali larut dalam suasana senja yang perlahan berganti malam.
Barangkali inilah salah satu alasan mengapa Sunset di Kebun memiliki tempat tersendiri di hati para penikmat festival. Acara ini tidak hanya menawarkan daftar musisi populer, tetapi juga pengalaman menikmati musik secara lebih intim dan inklusif.
Sepanjang penyelenggaraan, sejumlah nama besar tampil menghibur pengunjung. Di antaranya Skyline, Reruntuh, Lomba Sihir, Dere, .Feast, Hindia, Magnolia Celebration, Alkateri, Fiersa Besari, Perunggu, Nadin Amizah, hingga Tulus.
Di area lain, pengunjung dapat mengikuti berbagai aktivitas kreatif yang menghubungkan manusia dengan alam. Melalui program Natura, peserta diajak mengikuti kelas kokedama, flower box bouquet, hingga berbagai workshop edukasi lingkungan yang dikemas secara ringan dan interaktif.
Tak jauh dari sana, program Kultura menghadirkan pertunjukan Tanjidor, Tari Sirih Kuning, Tari Enggang, dan teater budaya yang memperkenalkan kekayaan tradisi Nusantara kepada generasi muda.
Kehadiran berbagai program tersebut menjadi bagian dari visi penyelenggara untuk menghadirkan ruang publik yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan nilai edukasi.
Managing Director PT Mitra Natura Raya, Marga Anggrianto, mengatakan Sunset di Kebun sejak awal dirancang sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai unsur masyarakat.
“Sunset di Kebun Series kami rancang bukan sekadar festival musik, tetapi ruang untuk mempertemukan masyarakat, komunitas, dan pemangku kebijakan dalam satu pengalaman yang dekat dengan alam,” ujar Marga.
Konsep itu tampak dari beragam kalangan yang hadir selama festival berlangsung. Selain keluarga dan komunitas muda, sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) dari berbagai wilayah di Indonesia juga turut hadir. Mereka berasal dari instansi yang bergerak di bidang pertamanan, kehutanan, lingkungan hidup, hingga kebudayaan.
Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut memperlihatkan bahwa festival tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga wadah bertukar gagasan mengenai pengelolaan ruang hijau dan pelestarian lingkungan.
General Manager Event PT Mitra Natura Raya, Abi Irawan, mengatakan berbagai upaya dilakukan untuk mendorong kesadaran lingkungan selama festival berlangsung.
“Pengurangan sampah plastik, pengelolaan limbah, hingga edukasi lingkungan menjadi bagian penting dari pengalaman festival ini,” kata Abi.
Komitmen itu diperkuat melalui berbagai aktivitas edukatif, termasuk Bird Presentation dari Jagat Satwa Nusantara yang mengajak pengunjung mengenal lebih dekat satwa dan pentingnya konservasi.
Bagi penyelenggara, Sunset di Kebun bukan sekadar agenda tahunan. Festival ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi yang terus berkembang dan mempertemukan berbagai kepentingan dalam satu ekosistem yang positif.
Presiden Direktur PT Mitra Natura Raya, Michael Bayu A. Sumarijanto, mengatakan pihaknya ingin terus mengembangkan festival sebagai ruang bersama yang menghubungkan musik, budaya, dan edukasi.
“Kami ingin menghadirkan ruang di mana musik, budaya, edukasi, dan kolaborasi dapat berjalan bersama dalam satu ekosistem berkelanjutan,” ujarnya.
Ketika malam semakin larut dan lagu terakhir mulai dimainkan, ribuan penonton masih bertahan di area festival. Tidak ada dorong-dorongan, tidak ada keributan, dan tidak ada atribut yang saling berebut ruang pandang.
Yang tersisa adalah tepuk tangan, nyanyian yang bergema bersama, dan kenangan tentang sebuah festival yang menunjukkan bahwa menikmati musik bisa dilakukan dengan nyaman dan penuh informasi yang bisa di implementasikan pengunjung, khusunya dalam hal menjaga lingkungan.

Sebagaimana diketahui, sepanjang 2025, Sunset di Kebun Series telah menjangkau lebih dari 52 ribu pengunjung di berbagai lokasi. Pada 2026, sejumlah rangkaian kegiatan juga mencatat peningkatan minat yang signifikan dari publik. ***





