JAKARTA, SPN – Hamparan lahan di sepanjang Jalan Bojonggede-Kemang (Bomang) yang selama bertahun-tahun terbengkalai kini mulai menunjukkan wajah baru. Semak belukar yang dahulu mendominasi perlahan berganti dengan deretan bedengan tanam yang tersusun rapi. Lubang-lubang tanam telah selesai dibuat, sementara sebuah drone terbang rendah menyemprotkan pupuk organik cair ke seluruh hamparan lahan pada Jumat 3 Juli 2026.
Pemandangan itu menjadi penanda bahwa kawasan Bomang telah memasuki tahap akhir penyiapan lahan. Sekitar 99 persen bedengan dan lubang tanam telah rampung sehingga lahan siap memasuki masa tanam.
Transformasi tersebut bukan sekadar mengubah lahan kosong menjadi area pertanian. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor tengah membangun sebuah kawasan integrated farming atau pertanian terpadu yang menggabungkan pertanian, peternakan, perikanan, hingga edukasi lingkungan dalam satu ekosistem.
Bupati Bogor Rudy Susmanto mengatakan kawasan Bomang dipilih karena selama ini merupakan aset yang belum dimanfaatkan secara optimal. Alih-alih dibiarkan menjadi lahan tidur atau bahkan dikuasai secara fisik oleh pihak tertentu, kawasan tersebut diarahkan menjadi ruang produktif yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
“Kawasan jalur tengah yang nantinya menjadi jalur cepat akan kita manfaatkan terlebih dahulu sebagai kawasan integrated farming. Masyarakat bisa belajar pertanian, peternakan, perikanan, hingga pengolahan hasilnya di sini,” kata Rudy Susmanto dikutip dari antara baru-baru ini.
Menurut Rudy, konsep yang dibangun tidak hanya mengejar hasil panen, tetapi juga membangun ekosistem pertanian dari hulu hingga hilir.
“Kita ingin seluruh prosesnya terintegrasi. Ada kelompok tani, peternak, komunitas, akademisi, hingga seluruh perangkat daerah yang bekerja bersama. Ini bukan hanya soal menanam, tetapi membangun kemandirian pangan dan ekonomi masyarakat,” ungkapnya.
Selama beberapa pekan terakhir, kawasan Bomang ditata secara bertahap. Diawali dengan pembersihan semak dan sampah, dilanjutkan perataan kontur tanah, pembentukan bedengan, pembuatan saluran drainase, hingga ribuan lubang tanam. Setelah seluruh tahapan fisik hampir selesai, penyemprotan pupuk organik cair menggunakan drone dilakukan sebagai persiapan akhir sebelum proses penanaman.
Penggunaan drone dipilih karena mampu mempercepat pekerjaan sekaligus menghasilkan penyebaran pupuk yang lebih merata pada hamparan lahan yang luas. Teknologi tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan mekanisasi pertanian modern kepada para petani dan generasi muda.
Ke depan, kawasan Bomang akan mengakomodasi kelompok tani, komunitas, pelajar, akademisi, pelaku usaha, seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), hingga aparat pemerintah. Kawasan ini diharapkan menjadi laboratorium terbuka bagi pengembangan pertanian modern sekaligus pusat pembelajaran yang dapat dimanfaatkan masyarakat luas.
Di tangan Pemkab Bogor, lahan yang sebelumnya tak menghasilkan apa pun kini dipersiapkan menjadi ruang yang memberi nilai ekonomi, pendidikan, dan lingkungan. Sebuah wajah baru Kabupaten Bogor yang lahir bukan dari beton dan gedung, melainkan dari hamparan tanah yang kembali dihidupkan. ***
