BEKASI, SPN — Pemerintah Kota Bekasi memulai pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Bantargebang, Ciketing Udik, Kota Bekasi, Jawa Barat.
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menargetkan fasilitas tersebut mulai beroperasi dalam 18 bulan mendatang dengan kapasitas pengolahan mencapai 1.500 ton sampah per hari.
Tri mengatakan, pembangunan PSEL menjadi salah satu langkah penting untuk mengatasi persoalan sampah di Kota Bekasi. Namun, kapasitas pengolahan tersebut belum sepenuhnya menuntaskan timbulan sampah yang dihasilkan setiap hari.
“Masih ada persoalan sekitar 300 ton sampah yang harus kita selesaikan bersama,” ujar Tri.
Menurutnya, persoalan sampah tidak bisa hanya diselesaikan melalui pembangunan fasilitas pengolahan. Pengurangan sampah harus dimulai dari sumbernya, terutama melalui kebiasaan masyarakat memilah sampah dari rumah.
“Kalau kita mulai memilah dari kediaman masing-masing, tentu akan mengurangi persoalan 300 ton sampah setiap harinya,” katanya.
Tri menegaskan, pemilahan sampah perlu menjadi gerakan bersama. Tidak hanya dilakukan di rumah tangga, tetapi juga di sekolah, pusat perbelanjaan, perkantoran, kawasan perdagangan hingga lingkungan para pedagang.
“Ini harus menjadi gerakan bersama. Mulai dari rumah, sekolah, pedagang, mal, kantor dan seluruh lingkungan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turut mendorong peningkatan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah di kawasan Bekasi Raya, Bogor Raya dan Bandung Raya.
Menurutnya, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan teknologi. Perubahan perilaku masyarakat, termasuk kebiasaan tidak membuang sampah sembarangan, juga menjadi bagian penting.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan pembangunan PSEL berskala besar menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk menangani persoalan sampah perkotaan.
Pemerintah menargetkan pembangunan PSEL di 40 kota besar yang mengalami kondisi darurat sampah dapat dipercepat dan diselesaikan pada 2027-2028.
“Yang darurat dan besar-besar, di atas 1.000 ton, kita akan buat PSEL atau Waste-to-Energy,” kata Zulkifli Hasan.
Zulhas juga menargetkan persoalan sampah secara nasional dapat ditangani hingga 70-80 persen pada 2029. Sementara sekitar 20 persen sisanya membutuhkan penanganan dari tingkat rumah tangga melalui edukasi dan perubahan kebiasaan.
Karena itu, pemilahan sampah dari sumber dinilai penting agar sampah organik dan anorganik tidak seluruhnya tercampur sebelum masuk ke fasilitas pengolahan.
Pembangunan PSEL Bantargebang diharapkan memperkuat sistem pengelolaan sampah di Kota Bekasi. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada pengurangan sampah dari sumber serta keterlibatan masyarakat.
Ground breaking PSEL Bantargebang turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Kepala Staf Angkatan Darat Maruli Simanjuntak, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, serta Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bekasi. ***









