JAKARTA, SPN – “Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)
Ada anggapan bahwa taubat hanya diperlukan oleh pencuri, pezina, pemabuk, atau pelaku dosa besar. Padahal Islam mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam, taubat adalah kebutuhan setiap manusia, bahkan orang yang baru saja menyelesaikan ibadah. Bukan hanya untuk seseorang yang baru bangun dari kubangan dosa.
Perhatikan tuntunan Rasulullah. Seusai salam dalam salat, beliau membaca Astaghfirullah tiga kali. Mengapa setelah ibadah yang suci justru memohon ampun? Karena seorang mukmin sadar, tak ada amal yang benar-benar sempurna.
Mungkin khusyuknya kurang, niatnya belum murni, atau hatinya sempat lalai. Istighfar menjadi penutup yang menyempurnakan ibadah.
Dalam Kitab Shahih Muslim, tepatnya Kitab At-Taubah (Kitab Taubat), Bab Diterimanya Taubat Seorang Pembunuh (Hadis no. 2766).
Kisah yang sama juga diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari, sehingga para ulama sepakat bahwa hadis ini berstatus sahih.
Dan diceritakan bahwasanya, lelaki yang telah membunuh 99 orang. Ia ingin bertaubat, namun seorang ahli ibadah justru memvonis bahwa taubatnya tidak diterima. Dalam kemarahannya, lelaki itu membunuh orang tersebut hingga genap seratus korban.
Namun ia tidak berhenti mencari jalan pulang. Ketika bertanya kepada seorang alim, ia dijawab, “Siapa yang dapat menghalangi rahmat Allah?” Lelaki itu diperintahkan meninggalkan lingkungan buruk dan menuju negeri orang-orang saleh. Di tengah perjalanan ia wafat, dan Allah menerima taubatnya karena hatinya benar-benar telah kembali kepada-Nya.
Kisah ini bukan pembenaran atas dosa, melainkan penegasan bahwa rahmat Allah lebih luas daripada dosa manusia.
“Dan janganlah kamu berputus asa dari Rahmat Allah,” demikian terjemah surat Zummar ayat 53.
Namun demikian, di tengah masyarakat, sering kali seseorang yang telah berubah tetap dibully karena masa lalunya. Dan sangat ironis ketika itu terjadi dilingkungan orang berilmu, kesalahan lama terus diungkit seolah-olah ia tidak pantas menjadi baik. Sementara, tawaf itu dari kiri ke kanan dan tawaf itu bukan hanya di Baitullah (Ka’bah), sepulangnya dari sana sejatinya manusia terus bertawaf.
Sebuah filosofi yang digambarkan bagaimana diri manusia terus menuju ke kanan meninggalkan keburukan. Begitu pula bagi pendosa, jangan pernah kembali lagi ke kiri, karena dengan begitu gagal lah tawaf itu, yang artinya bukan lagi bertawaf. Tapi berputar-putar tak berarti.
Tugas manusia bukan lagi menghakimi, melainkan menasihati dengan hikmah. Hanya Allah yang mengetahui apakah taubat seseorang diterima atau tidak. Rasulullah bersabda bahwa setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik mereka adalah yang bertaubat.
Ada sebuah ungkapan yang patut direnungkan.
“Setiap orang suci memiliki masa lalu, dan setiap pendosa berhak atas masa depan.”
Kalimat ini selaras dengan semangat Islam yang selalu membuka pintu harapan, bukan pintu keputusasaan.
Maka sebelum sibuk mengadili kehidupan orang lain, ingatlah bahwa kita sendiri menutup setiap salat dengan istighfar. Itu menjadi pengingat bahwa kita semua sedang berjalan menuju Allah, bukan sebagai manusia yang tanpa dosa, tetapi sebagai hamba yang tak pernah lelah bertaubat. ***


