JAKARTA, SPN – Presiden Prabowo Subianto optimistis dampak ekonomi dari program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) akan mulai terasa signifikan pada 2027 hingga 2028.
Keyakinan itu disampaikan Prabowo dalam sejumlah agenda nasional, termasuk Puncak Hari Koperasi ke-79 pada 12 Juli 2026 dan Muktamar NU ke-35 pada 27 Agustus 2026 di Jombang.
Menurut Prabowo, KDKMP dirancang untuk memangkas rantai distribusi yang selama ini panjang dan merugikan petani. Jika selama ini ada rata-rata 5 perantara dari petani ke konsumen, dengan KDKMP dipotong menjadi hanya 1 perantara.
“Semakin banyak koperasi yang beroperasi, maka efek penghematan akan semakin meluas. Harga kebutuhan pokok lebih terjangkau, petani dapat penghasilan lebih baik,” ujar Presiden Prabowo.
Saat ini sekitar 6.000 KDKMP telah beroperasi di seluruh Indonesia.
Pemerintah membidik perputaran uang hingga Rp223 triliun per tahun di desa melalui KDKMP. Program ini juga diperkirakan meningkatkan pendapatan petani, peternak, dan nelayan hingga Rp202 triliun melalui penguatan ekosistem ekonomi desa.
KDKMP akan menjadi pusat ekonomi desa terintegrasi. Fasilitasnya meliputi kantor koperasi, toko sembako, layanan simpan pinjam, apotek desa dengan obat generik murah, gudang logistik, hingga cold storage untuk menjaga kualitas hasil panen dan tangkapan nelayan. Presiden Prabowo Sibianto juga menegaskan KDKMP akan menjadi penyalur utama barang subsidi.
“Semua barang subsidi harus disalurkan kepada rakyat melalui Koperasi Desa Merah Putih. Harus! Barang subsidi rakyat tidak boleh diperdagangkan supaya yang membutuhkan, dialah yang terima,” tegasnya.
Untuk mendukung permodalan, bunga kredit supermikro KDKMP dipangkas dari 22 persen menjadi 8 persen. Koperasi juga menyediakan pembiayaan mikro dengan bunga terjangkau.
Target ekonomi 2027 sendiri dipatok tumbuh 5,8-6,5 persen, dengan skenario di RAPBN 2027 sebesar 6 persen, inflasi 2,5 persen, dan rupiah di kisaran Rp16.800-Rp17.500 per USD.







