JAKARTA, SPN – Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) DKI Jakarta II yang meliputi Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat, Ida Fauziah, mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat dimulai dari tingkat RT dan RW melalui kolaborasi dengan pemerintah.
Hal itu disampaikan Ida yang juga Pembina Relawan Bangkit Berdaya saat Final Bebersih Kampung 2026 bertema “Beres Sampahnya Berdaya Kampungnya” di Aula GOR Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
Kegiatan tersebut diikuti peserta yang mewakili 27 RW di Jakarta Selatan dan dihadiri Camat Mampang Prapatan Angga Saputra dari unsur pemerintah wilayah.
Ida mengatakan isu keberlanjutan lingkungan seharusnya menjadi perhatian para pemangku kepentingan, terutama pengambil kebijakan.
“Sayang sekali Wali Kota dan Wakil Wali Kota tidak bisa hadir. Ekspektasi saya terlalu tinggi. Dalam bayangan saya, ini adalah forum yang sangat strategis karena isu keberlanjutan lingkungan adalah isu yang seharusnya menjadi concern para pemangku kepentingan, terutama para pengambil kebijakan,” ujar Ida dalam sambutannya, Jumat, (19/9/2026).
Menurut dia, persoalan lingkungan membutuhkan kontribusi bersama karena dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat saat ini, tetapi juga generasi mendatang.
Karena itu, Ida memilih pendekatan bottom-up dengan mendorong inisiatif masyarakat dari lingkungan terkecil.
“Saya ingin mencoba memberikan sesuatu yang harusnya menjadi concern kita. Isu global ini bisa dilakukan dari hal-hal kecil dan bisa dilakukan dengan model bottom-up, sesuatu yang diinisiasi oleh masyarakat,” katanya.
Ia mengatakan program tersebut dirancang berbasis RT dan RW karena perubahan perilaku masyarakat menjadi bagian penting dalam pengelolaan sampah.
“Problem kita adalah problem kesadaran masyarakat. Kesadaran masyarakat itu bisa dibentuk oleh dukungan dari struktur pemerintah,” ungkapnya.
Ida menilai gerakan masyarakat perlu didukung pemerintah mulai dari RT, RW, kelurahan, kecamatan, pemerintah kota hingga Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Ia mengapresiasi para camat yang telah memfasilitasi kegiatan tersebut dan mengajak jajaran lurah untuk menyosialisasikan isu lingkungan kepada masyarakat.
Siapkan Dana Rp1 Miliar
Untuk memulai gerakan tersebut, Ida bersama tim dan mitra BUMN menyiapkan alokasi sekitar Rp1 miliar bagi 10 RT atau RW.
Menurut dia, dana tersebut merupakan stimulus untuk membangun ekosistem pengelolaan sampah dan lingkungan di tingkat masyarakat, bukan sebagai solusi tunggal atas persoalan sampah.
“Jangan dilihat besar kecilnya. Ini adalah pemantik untuk membangun ekosistem pengelolaan sampah baru di kelurahan,” terangnya.
Dengan alokasi sekitar Rp100 juta untuk setiap RT atau RW, Ida berharap program dapat berkembang dengan dukungan masyarakat.
“Seratus juta untuk satu RT ataupun satu RW itu tidak akan berarti apa-apa. Tapi 100 juta akan berarti sangat luar biasa ketika mendapatkan support dan dukungan dari warga,” tambahnya.
Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menegaskan pemberdayaan masyarakat tidak dapat dilakukan sendiri, sehingga membutuhkan sinergi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.
“Kerja pemberdayaan itu masyarakat tidak bisa sendirian. Harus ada sinergi, kolaborasi antara masyarakat dengan pemangku kepentingan yang lain,” kata Ida.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai perlombaan, tetapi menjadi pemantik bagi masyarakat untuk terus menjaga lingkungan.
“Ini adalah pemantik untuk menciptakan lingkungan baru, semangat baru, penjagaan baru terhadap lingkungan,” tutupnya.
Sementara itu, Camat Mampang Prapatan Angga Saputra mengapresiasi pelaksanaan Final Bebersih Kampung 2026.
Angga mengatakan persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan volume sampah, tetapi juga budaya masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumber.
“Sebetulnya bukan masalah sampah, tetapi masalah budaya masyarakat untuk memilah sampah,” kata Angga.
Menurut dia, pemilahan sejak dari sumber dapat membantu mengurangi beban penanganan sampah pada tahap berikutnya.
Angga juga menekankan bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Kendati begitu ia juga menekankan bahwasanya dalam kegiatan agar pendanaan juga bisa menyasar pada yang kalah, yang tentunya memiliki banyak kekurangan.
Untuk diketahui, dalam kegiatan tersebut, sebanyak 27 tim mewakili wilayah di Jakarta Selatan. Sejumlah lurah turut mendampingi peserta dari wilayah masing-masing.

Angga menilai kampung yang belum meraih juara tetap perlu mendapat pembinaan agar kekurangan yang ada dapat diperbaiki.
“Yang kalah pasti banyak kekurangan, tolong dibantu,” tandasnya. ***









