JAKARTA, SPN — Orang Tua Group (OT) merupakan salah satu kelompok usaha barang konsumsi yang lahir dan berkembang di Indonesia. Perusahaan ini memulai perjalanan bisnisnya pada 1948 melalui Anggur Kesehatan Cap Orang Tua, yang dikembangkan Chandra Djojonegoro.
Dari satu produk, bisnis keluarga Djojonegoro berkembang menjadi kelompok usaha dengan lebih dari 20 merek. Tango, Teh Gelas dan Formula menjadi sejumlah merek yang dikenal masyarakat, dengan portofolio mencakup makanan, minuman, kesehatan dan perawatan diri.
Perjalanan tersebut membuat OT tidak sekadar menjadi pemilik merek. Perusahaan membangun fasilitas produksi, jaringan distribusi dan pasar sendiri. OT menyebut memiliki 34 pabrik di Indonesia, didukung jaringan distribusi Artaboga. Produk-produknya juga telah tersedia di 26 negara di Asia, Eropa, Australia dan Afrika.
Skala itu menunjukkan adanya rantai nilai yang panjang di dalam negeri, mulai dari pengembangan produk, produksi, pengemasan, distribusi hingga pemasaran. OT juga pernah menyebut memiliki lebih dari 20.000 karyawan di Indonesia pada 2020. Angka tersebut merupakan data historis, tetapi menunjukkan besarnya ekosistem tenaga kerja yang pernah dibangun perusahaan.
Dalam konteks industri barang konsumsi, perjalanan OT dapat dilihat sebagai salah satu bentuk hilirisasi berbasis manufaktur dan merek. Bahan dan input produksi tidak berhenti sebagai komoditas, tetapi diolah menjadi produk jadi, diberi merek, diproduksi secara massal, didistribusikan dan dipasarkan. Nilai tambah kemudian tercipta melalui produk, merek, teknologi, tenaga kerja dan jaringan distribusi.
OT juga bukan perusahaan asing yang masuk untuk mengambil pasar Indonesia. Forbes mencatat bisnis Orang Tua Group kini dimiliki dan dijalankan Husain Djojonegoro bersama dua saudaranya. Forbes mencatat Husain sebagai warga negara Indonesia. Karena OT merupakan perusahaan privat, persentase kepemilikan sahamnya tidak dipublikasikan seperti perusahaan terbuka.
Perjalanan OT berlangsung di tengah persaingan dengan perusahaan dan merek global, Di pasar minuman beralkohol, misalnya, OT berhadapan dengan nama seperti Chivas Regal dan Smirnoff. Chivas merupakan merek Scotch whisky asal Skotlandia, sedangkan Smirnoff memiliki sejarah yang bermula di Rusia dan kini menjadi bagian dari Diageo.
Menariknya, sejarah OT sendiri tidak terpisahkan dari industri minuman beralkohol. Produk awal perusahaan adalah Anggur Kesehatan Cap Orang Tua. Hingga kini, OT masih memiliki lini minuman beralkohol, antara lain Newport, Anggur Merah, Intisari, API dan Atlas.
Namun, OT kemudian berkembang jauh melampaui bisnis tersebut. Formula, Tango, Teh Gelas dan berbagai produk lainnya membuat perusahaan menjadi pemain besar di industri barang konsumsi. Produk OT bahkan telah menembus pasar luar negeri.
Di sinilah kekuatan perusahaan lokal terlihat. OT tidak hanya menjual produk dengan label Indonesia, tetapi membangun pabrik, merek, tenaga kerja, distribusi dan jaringan pasar dari Indonesia. Sebagian produknya kemudian dibawa ke pasar internasional.
Data omzet dan aset konsolidasi terbaru OT tidak tersedia secara terbuka karena perusahaan bukan emiten di Bursa Efek Indonesia. Karena itu, ukuran bisnisnya lebih tepat dilihat dari jejak operasional yang dipublikasikan perusahaan: lebih dari 20 merek utama, 34 pabrik di Indonesia, jaringan distribusi nasional dan pasar di 26 negara.
Lebih dari tujuh dekade setelah berdiri, Orang Tua Group menunjukkan bahwa perusahaan lokal tidak harus menjadi pemain kecil di negeri sendiri. Dari satu produk pada 1948, OT berkembang menjadi kelompok usaha dengan berbagai merek dan lini bisnis, sekaligus mempertahankan akar industrinya di Indonesia.
Di tengah gempuran merek global, perjalanan itulah yang membuat OT layak disebut Sang Pendekar Lokal Beralkohol, perusahaan Indonesia yang berawal dari minuman beralkohol, kemudian berkembang menjadi kelompok usaha barang konsumsi dengan merek, pabrik, tenaga kerja dan jaringan distribusi yang dibangun dari Indonesia. ***








