JAKARTA, SPN – Nilai tukar Rupiah kembali memasuki jalur depresiasi di awal pekan. Setelah sempat menguat tipis 0,03 persen ke Rp 17.880 per dolar AS akhir pekan lalu, Rupiah berpotensi kembali tertekan pada perdagangan hari ini.
Pengamat mata uang Ibrahim A. memproyeksikan pergerakan Rupiah pada Senin (28/09/2026) akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 17.900 hingga Rp 17.950 per dolar AS.
Faktor Pemicu Depresiasi:
1. The Fed Kembali Hawkish
Pejabat Federal Reserve membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan. Presiden The Fed wilayah New York John Williams menyatakan wajar jika ada kenaikan suku bunga lagi sebelum akhir tahun 2026. Hal ini mendorong penguatan Dolar AS dan imbal hasil obligasi global.
2. Eskalasi Geopolitik AS – Iran
Perundingan intensif di New York membahas pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz yang diblokade. Ketidakpastian ini langsung mempengaruhi harga minyak dunia dan ekspektasi inflasi global, membuat investor menarik aset dari negara berkembang termasuk Indonesia.
Tekanan terhadap Rupiah ini sejalan dengan tekanan di pasar modal. IHSG diprediksi masih melanjutkan tren pelemahan dan menguji level 6.186 setelah anjlok 0,9 persen ke 6.241,8 pada Jumat lalu.
Sepanjang pekan lalu, investor asing mencatat net sell Rp 3,5 triliun dan secara year-to-date sudah mencapai Rp 104,8 triliun.





