JAKARTA, SPN – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih dalam tekanan berat dan bertahan di level Rp 17.800-an pada perdagangan Jumat (25/09/2026).
Berdasarkan data perdagangan terakhir, rupiah ditutup menguat tipis pada Rabu 23 September ke level Rp 17.818 per dolar AS setelah menguat 66 poin, namun kembali anjlok pada pembukaan Kamis 24 September 2026 ke level Rp 17.864 – Rp 17.870 per dolar AS, melemah 46-52 poin atau 0,26 persen – 0,29 persen.
Untuk hari ini Jumat 25 September, kurs referensi Bank Indonesia masih mematok:
– Kurs Jual BI: Rp 17.791,51
– Kurs Beli BI: Rp 17.614,49
Sementara di bank-bank besar, Counter BCA kemarin berada di kisaran Jual Rp 17.775 dan Beli Rp 17.685, dan e-rate BCA Rp 17.905 / Rp 17.885.
Penyebab Rupiah Tertekan:
1. Harga Minyak Naik: Minyak Brent tembus US$ 103 per barel dan WTI US$ 92,16 setelah Iran meragukan kemajuan perundingan damai dengan AS. Ini meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi.
2. The Fed Hawkish: The Fed baru menaikkan suku bunga ke 3,75 persen-4,00 persen pada pertengahan September, membuat aset dolar lebih menarik. Indeks Dolar (DXY) bertahan kuat di atas 101,13.
3. Menanti BI Rate: Pasar masih mencermati keputusan Rapat Dewan Gubernur BI yang menahan BI Rate di 5,75 persen.
Analis memprediksi rupiah hari ini akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp 17.830 – Rp 17.880 per dolar AS.






