Ambon SPN – Duka yang seharusnya tenang, berubah menjadi perjuangan. Seorang nenek berusia 70 tahun di desa Lohia Sapalewa, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), belum làma ini, harus digotong warga sejauh 4 kilometer menuju pemakaman. Penyebabnya, akses jalan menuju dusun rusak parah dan tidak bisa dilalui kendaraan sama sekali.
Almarhumah almarhumah Balandina Tibalimeten, diketahui meninggal dunia sekitar pukul 05.00 WIT di rumah duka di Desa Taniwel setelah menjalani perawatan akibat sakit yang dideritanya. Pada sore hari sekitar pukul 18.00 WIT, keluarga dan warga setempat secara bergantian menggotong peti jenazah menggunakan tandu darurat menuju Desa Lohia Sapalewa untuk disemayamkan sebelum dimakamkan.

Kondisi ini menjadi gambaran nyata sulitnya akses inprastruktur jalan yang masih dihadapi masyarakat diwilayah 3T seperti di wilayah pegunungan Taniwel. Penjabat Negeri Lohia Sapalewa, Thomas Soriale, mengatakan masyarakat selama ini harus berjuang sendiri ketika menghadapi situasi darurat.
“Kami hanya bisa pasrah dengan keadaan ini. Ketika ada warga yang sakit atau meninggal, masyarakat harus memikul mereka karena kendaraan tidak bisa masuk ke desa akibat kondisi jalan yang rusak,” ujarnya.

Thomas berharap pemerintah daerah, provinsi, maupun Pusat dapat memberikan perhatian serius terhadap pembangunan Inprastruktur jalan di wilayah pegunungan Taniwel.
“Kami berharap Pemerintah melihat kondisi masyarakat di sini. Akses jalan yang layak sangat kami butuhkan untuk menunjang kehidupan dan pelayanan dasar masyarakat,” katanya.







