JAKARTA, SPN — “Tumben dapat yang ini.” ucap salah seorang penumpang Transjakarta.
Ucapan itu terlontar dari penumpang yang duduk di bangku sebelah bersama temannya saat menaiki bus TransJakarta menuju arah Kampung Rambutan.
Keduanya kemudian memperhatikan bagian dalam bus. Perhatian mereka tertuju pada jok penumpang.
“Empuk banget joknya,” sahut temannya dalam percakapan itu.
Kesan tersebut juga terasa saat SPN menjajal kursinya. Bantalan jok terasa cukup empuk, membuat posisi duduk lebih nyaman selama perjalanan.
Namun bukan hanya jok yang menarik perhatian.
Saat bus mulai bergerak, suara mesinnya terdengar relatif halus. Suara mesin diesel tidak terlalu keras dari dalam kabin sehingga perjalanan terasa lebih tenang.
Bus tersebut menggunakan Mercedes-Benz OH 1626 dengan bodi Laksana Cityline 2. Identitas armada itu juga dikonfirmasi seorang petugas TransJakarta ketika ditanya SPN. Petugas menyebutnya sebagai PPD Vintage Series Livery.
Bus dengan tampilan tersebut memang memiliki sejarah tersendiri dalam layanan TransJakarta.
Untuk dileyahui, TransJakarta meluncurkan kembali edisi Vintage Series pada Februari 2017. Salah satu varian yang diperkenalkan menggunakan Mercedes-Benz OH 1626 dengan bodi Laksana Cityline 2. Berbeda dari seri Vintage sebelumnya, bus ini sudah menggunakan suspensi udara. Sistem tersebut membuat karakter perjalanan lebih halus dan nyaman.
Mercedes-Benz OH 1626 NG Automatic sendiri mulai digunakan TransJakarta pada 27 April 2017. Model tersebut menjadi salah satu sasis bus yang digunakan dalam layanan BRT dan hadir dengan livery reguler maupun livery retro yang terinspirasi dari PPD.
Dari sisi teknis, OH 1626 merupakan sasis bus bermesin diesel. Varian yang digunakan TransJakarta menggunakan transmisi otomatis Allison. Penggunaan transmisi otomatis membuat perpindahan tenaga terasa lebih halus dibandingkan bus dengan transmisi manual.
Sistem suspensi udara juga menjadi salah satu bagian penting dari kenyamanan bus ini. Suspensi tersebut membantu meredam guncangan ketika bus melintasi permukaan jalan.
Masuk ke dalam kabin, terdapat sejumlah pegangan bagi penumpang yang berdiri. Pada bagian kaca terdapat besi memanjang yang dapat digunakan sebagai pegangan tangan.
Ketika penumpang mulai bertambah, fasilitas tersebut menjadi penting. Penumpang yang tidak mendapatkan tempat duduk dapat berpegangan ketika bus bergerak atau berhenti.
Berdasarkan pengamatan, karakter bus ini terasa berbeda dibandingkan sejumlah armada TransJakarta yang lebih baru.
Bukan karena teknologi elektrifikasi, melainkan karena perpaduan mesin diesel yang relatif halus, suspensi udara dan jok yang terasa empuk.
Tampilan luarnya pun memiliki daya tarik tersendiri.
Livery PPD Vintage Series membawa kembali nuansa visual transportasi Jakarta pada masa lalu, tetapi digunakan pada bus TransJakarta yang melayani perjalanan perkotaan lebih bersih tanpa anak STM.
Bagi penumpang, sejarah panjang tersebut mungkin tidak langsung terlihat. Yang mereka rasakan justru hal yang lebih sederhana, duduk dengan nyaman, mendengar mesin yang tidak terlalu berisik, dan menikmati perjalanan tanpa terlalu banyak guncangan. Serta arahan operator dibersamai dengan pantun yang kadang menghibur.
Salah seorang penumpang dengan seragam ASN pegawai kementerian dalam negeri, turut mengabadikan momen bus ini dengan phone cell-nya. ***



