JAKARTA, SPN – Tokoh masyarakat H. Madit Musawaroh atau yang akrab disapa Bang Kubil turut meresmikan Kampung Biopori di RT 01/RW 03, Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Minggu, (28/6/2026).
Peresmian bersama yang dipimpin Camat Cipayung Diman, Ketua RW 03, serta unsur pemerintah kecamatan tersebut menjadi bagian dari implementasi Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026 tentang pengelolaan sampah dari sumber.
Madit Musawaroh mengatakan, gerakan Kampung Biopori bertujuan membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah tangga sekaligus memanfaatkan lahan tidur menjadi ruang terbuka hijau dan kawasan resapan air.
“Saya memang warga setempat, sekalian mengedukasi. Mohon maaf, dari rumah kita saja kadang anak-anak masih susah dibilangin mana kulit pisang, mana plastik. Dengan begini, sisa nasi dan sampah organik rumah tangga dipilah sehingga mudah terurai,” ujarnya saat berbincang-bincang dengan SPN.
Menurutnya, lubang biopori tidak hanya membantu mengurangi volume sampah organik, tetapi juga menghasilkan kompos yang dapat dimanfaatkan warga serta meningkatkan daya resap air di lingkungan.
“Pertama kita memanfaatkan lahan tidur, sekaligus menambah ruang terbuka hijau. Ini kita kerjakan bersama RT, RW, dan Camat. Biopori juga mampu menjadi sumber resapan air, sedangkan sisa nasi dan limbah rumah tangga organik menjadi kompos yang bisa dimanfaatkan,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat membiasakan pemilahan sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi, dan menjadikan instruksi Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung ini sebagai budaya memilah sampah.
“Kini di rumah kami juga memilah sampah. Mohon maaf, bukannya mengambil alih peran pemulung, tapi limbah plastik bisa dikilokan, begitu juga aluminium. Ini bisa menambah pendapatan warga kalau kita mau bergerak” ungkapnya.
Bang Kubil atau Madit Musawaroh berharap gerakan tersebut terus berlanjut sebagai bentuk dukungan terhadap program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
“Insya Allah apa yang kita lakukan ini mendapat nilai ibadah dan insya Allah terus dan terus kita jalankan instruksi dari Gubernur untuk Jakarta lebih maju, Jakarta lebih kondusif, Jakarta lebih aman, dan lebih nyaman,” tuturnya.
Ia berharap gerakan memilah sampah dari sumber dapat diterapkan secara luas, tidak hanya di Jakarta tetapi juga di wilayah penyangga.
“Jangan sampai masih ada kasur, bantal, atau sampah lainnya dibuang ke kali. Nanti kalau banjir siapa yang dirugikan? tempat pengolahan sampah kita sudah overload. Sudah saatnya kita berbuat untuk masa depan anak cucu dan menjadikan pemilahan sampah sebagai budaya,” tandasnya.
Untuk diketahui, Sebelumnya Kecamatan Cipayung menargetkan pembangunan 1.000 lubang biopori jumbo sebagai upaya mendukung gerakan pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber. Disejumlah lokasi seperti Pondok Pesantren Al Hamid Cilangkap puluhan lubang biopori jumbo sudah tertanam disusul wilayah lainnya. Program tersebut diharapkan mampu menekan volume sampah yang dikirim ke tempat pengolahan sekaligus meningkatkan daya resap air di wilayah Jakarta Timur. ***





