JAKARTA, SPN — Langit masih diselimuti kabut tipis ketika Alun-Alun Suryakencana mulai dipenuhi aktivitas pendaki pada Minggu (28/6/2026). Di hamparan savana yang luas, sejumlah tenda berdiri berdampingan. Sebagian pendaki menikmati secangkir kopi hangat, sementara lainnya mengabadikan hamparan bunga edelweiss yang bermekaran.
Di antara ratusan pendaki yang ditemui, mayoritas berasal dari Jakarta dan wilayah penyangga ibu kota. Tak sedikit pasangan muda-mudi hingga suami istri yang memilih menghabiskan akhir pekan dengan mendaki Gunung Gede sebagai cara melepas penat dari hiruk pikuk perkotaan.
Gunung Gede memiliki tiga jalur pendakian resmi, yakni melalui Jalur Gunung Putri di Kabupaten Cianjur serta Jalur Cibodas dan Selabintana di Kabupaten Sukabumi. Dari ketiga jalur tersebut, Gunung Putri menjadi salah satu yang paling diminati karena menawarkan akses yang relatif lebih singkat menuju Alun-Alun Suryakencana.
Pantauan SPN, aktivitas pendakian dari Jalur Gunung Putri sudah dimulai sejak dini hari. Pendaki terlebih dahulu melakukan registrasi di Basecamp Rumah Pendaki, Jalan Gunung Putri Nomor 04/08, Desa Sukatani, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, sebelum memulai perjalanan menuju puncak.
Salah seorang pendaki asal Jakarta, Jurianto, mengaku tiba di Basecamp Rumah Pendaki sekitar pukul 03.00 WIB menggunakan kendaraan pribadi. Sekitar pukul 03.30 WIB, ia bersama rombongan mulai melakukan pendakian.
“Sekitar pukul 09.00 WIB kami sampai di Surya Kencana, lalu melanjutkan perjalanan dan tiba di Puncak Gede sekitar pukul 10.30 WIB,” kata Jurianto.
Menurut dia, biaya pendakian melalui jalur tersebut berkisar Rp100 ribuan per orang. Biaya itu sudah mencakup tiket masuk kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), asuransi, parkir kendaraan, fasilitas basecamp, hingga akses WiFi.
Bagi para pendaki, Alun-Alun Suryakencana menjadi tujuan utama sebelum melakukan summit attack menuju Puncak Gede. Padang savana seluas sekitar 50 hektare yang berada di ketinggian 2.750 meter di atas permukaan laut itu menjadi salah satu lokasi berkemah paling ikonik di Indonesia.
Hamparan ribuan bunga edelweiss (Anaphalis javanica) tumbuh alami di kawasan tersebut dan menjadi daya tarik utama. Di tengah savana juga terdapat sumber mata air jernih yang dimanfaatkan pendaki untuk memenuhi kebutuhan air minum maupun memasak selama berkemah. Ketika malam tiba, minimnya polusi cahaya membuat kawasan ini menjadi lokasi favorit menikmati langit bertabur bintang, sedangkan pada musim kemarau suhu udara yang mendekati nol derajat Celsius kerap memunculkan fenomena embun beku (frost).
Meski menawarkan panorama alam yang memikat, sejumlah pendaki berharap fasilitas umum mendapat perhatian lebih. Beberapa pendaki mengeluhkan kondisi mandi, cuci, kakus (MCK) di kawasan Surya Kencana yang dinilai kurang terawat, terutama saat jumlah pengunjung meningkat pada akhir pekan.
“Kawasannya sangat indah, tapi kondisi MCK menurut saya masih perlu diperbaiki agar pendaki lebih nyaman,” ujar Jurianto.
Seluruh pendaki yang memasuki kawasan TNGGP diwajibkan melakukan pemesanan tiket secara daring sesuai kuota harian yang ditetapkan pengelola. Pendaki juga diwajibkan membawa turun kembali sampah yang dihasilkan selama pendakian serta dilarang memetik bunga edelweiss sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian ekosistem pegunungan.
Dengan jarak tempuh yang hanya sekitar tiga hingga empat jam dari Jakarta menuju kaki gunung, Gunung Gede terus menjadi destinasi favorit warga ibu kota. Keindahan Alun-Alun Suryakencana, udara pegunungan yang sejuk, serta jalur pendakian yang relatif mudah dijangkau menjadikan kawasan ini sebagai tempat pelarian singkat dari padatnya aktivitas perkotaan. ***






