SPN , Jakarta – Dinamika politik nasional dinilai masih sangat cair, termasuk terkait peluang munculnya gerakan rakyat dalam kontestasi politik serta posisi Anies Baswedan dalam peta kekuatan politik ke depan.
Hal tersebut disampaikan loyalis Anies Baswedan, Geisz Chalifah, saat membahas perkembangan gerakan rakyat dan konstelasi politik nasional bersama media di Jakarta.( 2/9/2026)
Geisz mengatakan gerakan yang dibahas dalam pertemuan tersebut telah menyelesaikan seluruh persyaratan administratif dan selanjutnya memasuki tahapan verifikasi faktual oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Menurut dia, gerakan tersebut juga telah membangun jaringan di sejumlah provinsi, kabupaten, dan kota. Kepatuhan terhadap persyaratan administrasi di berbagai daerah, kata Geisz, sejauh ini berjalan dengan baik.
Namun, Geisz menilai keberlanjutan gerakan tersebut masih dipengaruhi oleh dinamika politik dan kebijakan pemerintah. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah sejauh mana pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memberikan ruang bagi gerakan rakyat untuk berpartisipasi dalam politik secara terbuka.
Selain itu, persoalan ambang batas pencalonan juga dinilai masih menjadi bagian dari dinamika politik yang perlu diperhatikan. Menurut Geisz, apabila mekanisme tersebut mengalami perubahan, proses politiknya berpotensi berlangsung panjang, termasuk melalui pembahasan di DPR.
Geisz juga mempertanyakan pilihan strategi yang akan ditempuh gerakan rakyat dalam menghadapi kontestasi politik mendatang.
Menurut dia, terdapat kemungkinan gerakan tersebut bekerja sama dengan partai politik yang telah memiliki kursi di DPR. Di sisi lain, gerakan rakyat juga dapat memilih membangun kekuatan secara mandiri.

Geisz memperkirakan pembangunan kekuatan politik dalam skala nasional membutuhkan modal yang besar. Ia menyebut kebutuhan awal untuk membangun jaringan dan memenuhi berbagai kebutuhan perjuangan politik dapat mencapai sedikitnya Rp1 triliun.
Di tengah dinamika tersebut, posisi Anies Baswedan juga menjadi perhatian.
Mantan Gubernur DKI Jakarta itu saat ini tidak menduduki jabatan publik dan dinilai relatif jarang tampil secara langsung di ruang publik.Meski demikian, Geisz mengatakan nama Anies masih diperhitungkan dalam sejumlah survei politik. Ia menyebut Anies tetap berada dalam jajaran tokoh yang memiliki tingkat pengenalan publik cukup kuat. Geisz juga menyinggung hasil survei Median yang menurutnya menempatkan Prabowo di posisi teratas, sementara KDM dan Anies berada di posisi berikutnya dalam peta persaingan politik nasional.
Menurut Geisz, posisi Anies memiliki karakter berbeda dibandingkan tokoh yang saat ini memegang jabatan atau memiliki posisi kelembagaan, seperti Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) maupun Gibran Rakabuming Raka.
Namun, ia menilai ketiadaan jabatan publik tidak serta-merta menghilangkan perhatian masyarakat terhadap Anies.
Geisz mengakui prospek politik Anies ke depan belum dapat dipastikan. Perubahan koalisi, perkembangan partai politik, kebijakan pemerintah, serta respons masyarakat dinilai dapat mengubah peta kekuatan menjelang agenda elektoral berikutnya.
Geisz juga menjelaskan alasan dirinya dan sejumlah rekannya tidak bergabung dengan organisasi politik tertentu.
Menurut dia, keterlibatan mereka dalam organisasi politik tertentu berpotensi langsung dikaitkan dengan Anies Baswedan oleh publik. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mempersempit ruang gerak mereka dalam menentukan sikap politik.
Karena itu, pilihan untuk tidak melekat pada organisasi politik tertentu dinilai dapat memberikan ruang yang lebih bebas bagi Geisz dan rekan-rekannya dalam menentukan sikap politik.
Geisz sendiri dikenal sebagai aktivis dan pekerja kebudayaan. Ia pernah terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan serta pernah menjadi komisaris PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk pada era Anies Baswedan menjabat Gubernur DKI Jakarta.
Ia juga pernah aktif di sejumlah organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan, serta merupakan lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Jayabaya pada 1987. Perkembangan gerakan rakyat, dinamika aturan pencalonan, arah kebijakan pemerintah, dan konfigurasi partai politik dinilai akan menjadi sejumlah faktor penting yang menentukan peta politik nasional ke depan. Dalam situasi tersebut, peluang Anies Baswedan untuk kembali menjadi salah satu figur penting dalam kontestasi politik nasional masih terbuka, meski arah dan bentuknya sangat bergantung pada perkembangan politik selanjutnya





