JAKARTA, SPN – Forum Pemuda Peduli Jakarta (FPPJ) menyambut baik langkah PAM JAYA melakukan mitigasi dan relokasi pasokan air untuk menjaga keberlangsungan layanan kepada masyarakat di tengah penghentian sementara operasi Instalasi Pengolahan Air (IPA) Hutan Kota.
Ketua Umum FPPJ, Endriyansyah, mengatakan langkah PAM JAYA menyiapkan skema pasokan alternatif menjadi bentuk respons cepat terhadap kondisi sumber air baku yang mengalami penurunan kualitas.
Menurutnya, persoalan air tidak dapat hanya dilihat dari sisi gangguan pelayanan, tetapi juga harus mempertimbangkan kondisi sumber air baku yang dipengaruhi faktor lingkungan dan perubahan kondisi hidrologis.
“FPPJ menyambut baik langkah PAM JAYA melakukan mitigasi. Yang paling penting masyarakat tetap mendapatkan akses air dan dampak gangguan pelayanan dapat diminimalkan,” ujar Ryan sapaan akrabnya, saat berbincang dengan SPN di Jakarta, Jumat, (18/92026).
FPPJ juga mengapresiasi penyediaan 72 mobil tangki air secara gratis bagi masyarakat di 10 kelurahan terdampak. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi selama proses penyesuaian pasokan berlangsung.
Selain itu, pemberian kompensasi kepada 44.872 pelanggan dengan total nilai mencapai Rp555 juta dinilai menunjukkan perhatian PAM JAYA terhadap pelanggan yang mengalami dampak gangguan layanan.
Ryan mengatakan, langkah darurat tersebut perlu berjalan beriringan dengan penguatan ketahanan sumber air baku Jakarta. Terlebih, kondisi Kali Angke yang mengalami penurunan debit dan intrusi air laut dapat memengaruhi proses pengolahan air.
“Ke depan, penguatan sumber air baku dan sistem distribusi harus terus menjadi perhatian. Jakarta membutuhkan sistem layanan air yang semakin adaptif menghadapi perubahan kondisi lingkungan,” katanya.
Sebagaimana dikabarkan sebelumnya, PAM JAYA menghentikan sementara operasi IPA Hutan Kota sejak 15 September 2026 setelah kondisi air baku dari Kali Angke mengalami penurunan. Kandungan Total Dissolved Solids (TDS) dilaporkan meningkat hingga lebih dari 10.000 ppm.
PAM JAYA kemudian melakukan relokasi pasokan dari instalasi dan sumber air lainnya. Proses relokasi disebut berlangsung maksimal 2×24 jam sejak 18 September 2026, disertai penyesuaian layanan di sejumlah wilayah terdampak.
FPPJ berharap langkah mitigasi tersebut dapat berjalan efektif sehingga pelayanan air kepada masyarakat kembali normal dan kebutuhan dasar warga tetap terjamin selama proses penanganan berlangsung. ***








