KEPULAUAN SERIBU, SPN — Rencana pengembangan jaringan transportasi TransJakarta hingga ke wilayah Kepulauan Seribu dinilai dapat menjadi salah satu capaian penting dalam momentum perayaan 5 Abad Jakarta pada 2027 mendatang. Kehadiran jaringan transportasi yang terintegrasi ini diharapkan tidak hanya menghubungkan daratan Jakarta dengan Kepulauan Seribu, tetapi juga mampu membuka konektivitas yang merata antarpulau.
Hal tersebut diungkapkan oleh Mantan Bupati Kepulauan Seribu periode 2018–2020, Husein Murad. Menurutnya, rencana tersebut merupakan langkah yang tepat mengingat mobilitas masyarakat kepulauan sangat membutuhkan sistem transportasi yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Husein berpandangan, momentum 5 Abad Jakarta seharusnya tidak sekadar diisi dengan kegiatan seremonial semata, melainkan harus menghadirkan pembangunan nyata yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Salah satu wujud nyatanya adalah melalui penyediaan jaringan transportasi yang menghubungkan wilayah daratan Jakarta dengan Kepulauan Seribu secara lebih optimal.
Ia menilai, pengelolaan jaringan transportasi laut oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) seperti TransJakarta bisa menjadi babak baru. Selama ini, operasional kapal pemerintah ditangani langsung melalui Dinas Perhubungan. Kehadiran kapal pemerintah tersebut dinilai sebagai bentuk intervensi sementara yang tepat untuk memastikan warga kepulauan tetap memperoleh akses layanan transportasi yang memadai.
“Pemerintah itu regulator, jangan operator. Pemerintah mengatur perhubungan, tetapi jangan berbisnis perhubungan. Pemerintah bisa menggunakan tangan BUMD untuk menjalankan usaha pelayanan tersebut,” ujar Husein.
Kendati demikian, Husein mengingatkan agar proses transisi dan perubahan sistem pengelolaan ini tidak lantas meminggirkan keberadaan kapal penumpang tradisional. Pasalnya, armada tradisional telah lama menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan masyarakat Kepulauan Seribu serta menopang mobilitas warga antarpulau dari masa ke masa.
Integrasi dengan TransJakarta, kata dia, semestinya dijadikan momentum strategis untuk memberdayakan serta mendongkrak kesejahteraan para pelaku usaha kapal tradisional, alih-alih menggantikan peran mereka.
“Jangan sampai adanya kapal TransJakarta membuat kapal tradisional tersisih. Mereka harus di-empower. Kalau hari ini pendapatannya Rp10, bagaimana setelah bergabung atau masuk dalam jaringan itu bisa menjadi Rp11. Filosofinya harus begitu, kehidupan mereka harus lebih baik,” tegasnya.
Ia menambahkan, peningkatan kapasitas tersebut dapat ditempuh melalui pembinaan berkelanjutan, perbaikan kualitas fisik kapal, penguatan standar keselamatan pelayaran, hingga pemberian dukungan terhadap operasional harian para pelaku transportasi lokal.
Konektivitas Antarpulau dan Logistik
Lebih lanjut, Husein menyoroti bahwa pembangunan jaringan transportasi tidak boleh berhenti pada rute penghubung antara Jakarta dan Kepulauan Seribu saja. Kebutuhan mobilitas masyarakat dan wisatawan di dalam kawasan kepulauan juga mendesak untuk diakomodasi melalui jaringan transportasi antarpulau.
Ia menganalogikan sistem tersebut dengan moda transportasi darat di Jakarta yang memungkinkan penumpang berpindah moda dan tujuan secara berkesinambungan.
“Kalau ada turis di Pulau Pari kemudian ingin ke Pulau Lancang, bagaimana caranya? Jangan hanya dari Kali Adem ke pulau. Jaringan transportasi antarpulau juga harus dipikirkan,” kata Husein.
Dengan adanya jaringan yang terpadu, masyarakat diharapkan tidak lagi menemui kendala mobilitas saat harus berpindah pulau untuk keperluan bekerja, menempuh pendidikan, berdagang, maupun berwisata.
Selain mobilitas penumpang, sektor pengiriman barang dan logistik juga menjadi catatan penting agar tidak diabaikan. Kepulauan Seribu memerlukan sistem rantai pasok dan distribusi yang efisien demi menjamin ketersediaan bahan pokok serta kebutuhan penting lainnya di pulau-pulau permukiman.
“Yang harus dipikirkan bukan hanya bagaimana orang sampai ke pulau, tetapi bagaimana air mineral sampai ke pulau, bagaimana beras sampai ke pulau,” ujarnya.
Prinsip serupa berlaku bagi kelancaran arus distribusi hasil perikanan tangkap maupun produk-produk usaha masyarakat setempat. Jaringan transportasi laut dituntut mampu memfasilitasi arus keluar-masuk barang secara seimbang.
Di sisi lain, ia juga menyinggung persoalan krusial terkait ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) bagi armada kapal yang beroperasi di wilayah kepulauan. Kebutuhan pasokan energi ini perlu dimasukkan dalam rancangan sistem transportasi agar awak kapal tidak perlu repot kembali ke daratan Jakarta hanya demi mengisi bahan bakar.
“Kalau kapal berada di Pulau Pramuka atau Pulau Kelapa dan membutuhkan BBM, tidak mungkin harus ke Kali Adem. Harus ada jaringan penyalurannya di pulau,” imbuhnya.
Menyongsong Integrasi Menyeluruh
Melalui konsep pengelolaan di bawah naungan BUMD, integrasi antara moda transportasi darat dan laut di Jakarta diyakini dapat terwujud secara lebih mulus. Dengan demikian, layanan menuju Kepulauan Seribu tidak lagi berjalan secara terisolasi, melainkan menjadi satu kesatuan utuh dari sistem transportasi perkotaan Jakarta.
Meski demikian, ia mengingatkan agar proses peralihan menuju pengelolaan profesional tersebut dilakukan secara bertahap dan penuh kehati-hatian agar pelayanan kepada publik tidak mengalami gangguan. Langkah Dinas Perhubungan yang selama ini menyediakan armada kapal dinilai sudah tepat sebagai jaminan pelayanan dasar sebelum sistem permanen terbentuk.
“Untuk sementara pemerintah turun dulu agar rakyat Pulau Seribu terlayani. Setelah itu berproses menuju pengelolaan yang lebih tepat,” tuturnya.
Husein berharap seluruh cetak biru rencana integrasi ini sudah mulai dirumuskan secara komprehensif sejak sekarang, mencakup aspek regulasi, pembukaan rute antarpulau, pemberdayaan kapal tradisional, kelancaran logistik, hingga penyediaan infrastruktur pendukungnya.
Apabila seluruh elemen tersebut berhasil direalisasikan, momentum 5 Abad Jakarta pada 2027 dipastikan bukan sekadar perayaan seremonial semata, melainkan meninggalkan legasi berupa jaringan transportasi terpadu yang benar-benar merangkul masyarakat Kepulauan Seribu dari daratan hingga antarpulau.










