JAKARTA, SPN – Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mengingatkan pemerintah untuk segera menyiapkan langkah mitigasi risiko secara terencana dalam menghadapi potensi anomali iklim El Nino. Antisipasi ini dinilai krusial guna mencegah tekanan kenaikan harga bahan pokok dan gangguan pasokan pangan pada 2027.
Wakil Ketua DEN Mari Elka Pangestu menyampaikan, perubahan iklim menjadi salah satu tantangan utama bagi stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Fenomena El Nino diperkirakan berlangsung hingga akhir 2026, dengan dampak lanjutan yang diproyeksikan masih membayangi kondisi ekonomi hingga tahun depan sebelum beralih ke La Nina.
“Pangan ini harus benar-benar kita waspadai, karena tentunya ketersediaan dan harganya perlu mendapat perhatian khusus,” ujar Mari usai menghadiri Kontan Economic & Demographic Forum di Jakarta, Selasa (29/09/2026).
Menurut Mari, El Nino berpotensi memicu kekeringan yang mengganggu hasil produksi pertanian serta jalur transportasi dan distribusi logistik. Sementara peralihan menuju La Nina yang membawa peningkatan curah hujan tinggi juga perlu diantisipasi karena berisiko menimbulkan banjir yang dapat merusak lahan pertanian dan memutus alur distribusi.
DEN memproyeksikan produksi beras nasional turun 0,9 persen YoY pada periode Agustus-Oktober 2026, bersamaan dengan periode Ramadan dan Idul Fitri 2027 saat permintaan pangan melonjak.
BMKG mencatat 75,1 persen wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan rendah pada September 2026. Sebagai antisipasi, cadangan pangan nasional dicatat sebesar 5,1 juta ton per 25 Agustus 2026.
Di sisi lain, Kementan memastikan stok pangan aman hingga akhir tahun dengan percepatan masa tanam, optimalisasi irigasi, dan distribusi pompa air ke wilayah rawan kekeringan, berkoordinasi dengan Bapanas dan Bulog.









