Pada kesempatan tersebut, Menteri Dody juga sempat berinteraksi dengan para petani penerima manfaat dan menerima aspirasi para petani untuk terus meningkatkan layanan air irigasi. Ketersediaan air irigasi yang cukup dinilai dapat mereduksi potensi konflik antar petani pemakai air, terutama di wilayah hilir.
Selain sebagai sumber irigasi, Bendungan Meninting juga memiliki manfaat utama untuk mendukung kebutuhan air domestik Kabupaten Lombok Barat hingga 2030 sebesar 150 liter/detik. Sumber air baku bendungan akan memenuhi hingga 99.750 jiwa dengan asumsi 1 liter/detik melayani kurang lebih 665 jiwa atau sekitar 50,45% dari total kebutuhan air domestik untuk 2 kecamatan di Lombok Barat, yakni Kecamatan Batulayar dengan kebutuhan 92,66 liter/detik dan telah mendapat suplai eksisting 73,0 liter/detik, suplai bendungan 20 liter/detik serta Kecamatan Gunungsari mendapat suplai dari bendungan 130 liter/detik dan suplai eksisting 79,0 liter/detik dari total kebutuhan 204,65 liter/detik.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara Barat Eka Nugraha mengatakan Bendungan Meninting yang terletak di Desa Bukit Tinggi, Kecamatan Gunung Sari dan Desa Dasan Geria, Kecamatan Lingsar juga akan membantu Pemerintah Daerah dalam mitigasi persoalan kekeringan di Lombok Barat serta mereduksi banjir seluas 59 Ha pada musim hujan, khususnya di Kecamatan Gunung Sari, Lingsar, Batulayar, dan Ampenan.
“Bendungan ini dibangun untuk mendukung tiga pilar ketahanan nasional, yaitu ketahanan pangan, air, dan energi. Bendungan Meninting juga berpotensi sebagai sumber energi terbarukan untuk PLTS Apung 9 MW dan PLTMH sebesar 0,8 MW,” kata Eka Nugraha.







