AMBON, SPN – Proyek Strategis Nasional (PSN) Maluku Integrated Port akan segera ditinjau oleh perwakilan Bank Dunia. Desa Waai, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah ditetapkan sebagai lokasi utama pembangunan pelabuhan terintegrasi tersebut.
Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa di Ambon menyatakan kunjungan tersebut menjadi bagian dari komitmen internasional dalam mempercepat pembangunan kawasan Indonesia Timur.
Selain itu, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) juga telah menyatakan komitmennya untuk mengawal penyiapan dan memberikan dukungan penuh terhadap realisasi proyek tersebut. Saat ini, tim teknis Bappenas sedang bekerja di lapangan untuk mematangkan berbagai tahapan persiapan.
Gubernur menjelaskan, pada tahap awal Pemerintah Provinsi Maluku mengusulkan kawasan Waisarisa, Kabupaten Seram Bagian Barat, sebagai lokasi pembangunan MIP. Namun, usulan tersebut berubah setelah hasil kajian komprehensif dari lembaga riset asal Belanda merekomendasikan Desa Waai, Pulau Ambon, sebagai lokasi paling strategis.
Hasil kajian itu didasarkan pada aspek teknis dan kelayakan ekonomi sehingga Desa Waai dinilai lebih efektif untuk pengembangan pelabuhan terpadu. Penetapan lokasi tersebut diharapkan menjadi landasan kuat bagi percepatan pelaksanaan proyek.
Menurut Gubernur Hendrik Lewerissa proyek Maluku Integrated Port (MIP) dirancang sebagai simpul logistik terintegrasi yang tidak hanya berfungsi sebagai pelabuhan, tetapi juga mendorong konektivitas maritim di kawasan timur Indonesia. Kehadiran MIP diharapkan mampu menekan disparitas harga, meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah, serta membuka peluang perdagangan baru.
Maluku Integrated Port merupakan salah satu dari 14 Proyek Trategi Nasiinal di Maluku yang masuk daftar prioritas nasional. Pelabuhan ini dirancang sebagai penghubung logistik kawasan timur Indonesia dengan kapasitas peti kemas, terminal penumpang, dan kawasan industri pendukung.






