JAKARTA, SPN — Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta mendorong lahirnya narasi Islam yang lebih luas dalam merespons berbagai persoalan kemanusiaan di tingkat global.
Gagasan tersebut disampaikan Anis saat menjadi pembicara dalam International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 di Jakarta, Sabtu (26/9/2026). Di hadapan ratusan delegasi dari berbagai negara Islam, Anis menyampaikan pandangannya dalam bahasa Arab mengenai perubahan dunia dan posisi pemikiran Islam di tengah tantangan global.
Anis mengatakan, perkembangan dunia saat ini tidak hanya menghadirkan persoalan bagi umat Islam. Berbagai krisis juga telah berkembang menjadi persoalan kemanusiaan yang membutuhkan perhatian lintas negara dan kelompok.
Menurutnya, setidaknya terdapat empat persoalan besar yang tengah dihadapi dunia, yakni krisis metodologi dan ideologi yang menopang tatanan global, perubahan keseimbangan kekuatan antarnegara, krisis institusi internasional, serta krisis kepemimpinan.
Perubahan tersebut, kata Anis, membuat negara-negara besar harus menyesuaikan strategi dengan lingkungan global yang terus berubah.
Palestina dan Pergeseran Narasi
Anis kemudian menyinggung Palestina sebagai salah satu contoh bagaimana sebuah persoalan dapat mengalami perubahan cara pandang.
Ia menjelaskan, isu Palestina sebelumnya banyak dipahami sebagai konflik Arab-Israel. Dalam perkembangannya, isu tersebut kemudian dipandang sebagai persoalan antara Islam dan Zionisme.
Namun, rangkaian tragedi kemanusiaan yang terjadi dalam konflik Palestina turut mengubah cara masyarakat dunia melihat persoalan tersebut.
“Namun setelah perang Palestina terakhir dan berbagai pemandangan tragedi kemanusiaan, terjadi perubahan penting dalam cara isu Palestina dipahami, yaitu sebagai persoalan antara kemanusiaan dan ketidakmanusiawian,” ujar Anis.
Menurut Anis, perubahan perspektif itu membuat isu Palestina mendapat perhatian yang lebih luas dan tidak lagi hanya menjadi perhatian masyarakat Muslim.
Ia menyebut perhatian terhadap persoalan Palestina juga muncul di berbagai kawasan, termasuk Eropa dan Amerika.
Dalam forum tersebut, Anis menekankan pentingnya memperluas cakupan narasi keislaman. Menurut dia, Islam tetap memiliki tanggung jawab untuk menjawab persoalan umat, tetapi pada saat yang sama nilai-nilai Islam juga dapat memberikan perspektif terhadap persoalan kemanusiaan secara universal.
“Narasi yang dibutuhkan umat adalah narasi atau wacana kebangkitan di satu sisi, tetapi masyarakat manusia juga membutuhkan narasi untuk penyelamatan,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa konflik dan perkembangan teknologi militer saat ini memiliki dampak yang jauh melampaui wilayah tempat konflik berlangsung.
Salah satunya terkait kemampuan persenjataan modern yang, jika digunakan secara masif, dapat menimbulkan kehancuran dalam skala global.
“Karena saat ini kita memiliki senjata yang cukup untuk menghancurkan seluruh umat manusia di muka bumi. Senjata yang ada saat ini, jika seluruhnya digunakan, cukup untuk menghancurkan dunia berkali-kali,” ujar Anis.
Karena itu, Anis memandang IGIC dapat menjadi ruang untuk membicarakan posisi pemikiran Islam dalam menghadapi perubahan dunia.
Menurut dia, tantangan ke depan bukan hanya bagaimana umat Islam beradaptasi dengan perubahan zaman, tetapi juga bagaimana nilai-nilai Islam dapat memberikan kontribusi dalam menjawab persoalan yang menyangkut masa depan manusia secara keseluruhan.
Forum IGIC 2026 pun menjadi salah satu ruang dialog untuk mempertemukan pemikiran keislaman dengan berbagai persoalan global yang terus berkembang. ***







