JAKARTA, SPN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan rangkaian enam gempa bumi yang terjadi di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik dalam waktu kurang dari 24 jam merupakan fenomena yang masih sesuai dengan aktivitas tektonik normal di kawasan tersebut.
Pakar gempa bumi BMKG, Daryono, mengatakan secara ilmiah enam gempa kuat yang terjadi hampir bersamaan menunjukkan tingginya aktivitas tektonik di wilayah paling aktif secara seismik di dunia. Namun, kondisi itu tidak otomatis berarti seluruh gempa memiliki satu penyebab yang sama maupun menjadi pertanda akan terjadi gempa bumi global yang lebih besar.
“Secara ilmiah, enam gempa kuat dalam kurang dari 24 jam di Ring of Fire menunjukkan tingginya aktivitas tektonik di kawasan paling aktif seismik di dunia. Namun, kejadian tersebut tidak otomatis berarti ada satu penyebab tunggal atau tanda akan terjadinya gempa global yang lebih besar,” jelas Daryono dikutip dari keterangan resmi, Sabtu, (27/6/2026).
BMKG menjelaskan Ring of Fire merupakan jalur sepanjang sekitar 40.000 kilometer yang mengelilingi Samudra Pasifik dan menjadi lokasi pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif. Kawasan ini menjadi sumber sekitar 90 persen gempa bumi dunia serta sekitar 75 persen gunung api aktif di Bumi.
Indonesia termasuk negara yang berada di jalur Ring of Fire karena terletak di pertemuan Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Kondisi tersebut menyebabkan aktivitas gempa bumi di Indonesia relatif tinggi.
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah percaya pada informasi yang menghubungkan rangkaian gempa di Ring of Fire dengan prediksi bencana besar tanpa dasar ilmiah. Masyarakat diminta selalu mengikuti informasi resmi yang disampaikan BMKG terkait perkembangan aktivitas kegempaan. ***





