JAKARTA, SPN – Hutan Amazon selama ini dikenal sebagai “paru-paru dunia” karena memiliki luas sekitar 5,5 juta kilometer persegi dan menjadi habitat sekitar 10 persen spesies yang diketahui di bumi. Namun, sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa jika dilihat dari kemampuan menyimpan karbon per hektare, hutan mangrove justru lebih unggul.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports mengungkapkan, ekosistem mangrove di wilayah Amazon Brasil memiliki cadangan karbon antara 361 hingga 746 ton karbon per hektare (Mg C/ha). Sebagian besar karbon tersebut tersimpan di dalam tanah atau sedimen, sehingga dapat bertahan selama ratusan hingga ribuan tahun.
Temuan ini memperkuat posisi mangrove sebagai salah satu ekosistem penyerap karbon paling efektif di dunia atau dikenal sebagai blue carbon.
Lembaga riset internasional Center for International Forestry Research and World Agroforestry (CIFOR-ICRAF) menyebutkan, mangrove mampu menyimpan lebih dari 1.000 ton karbon per hektare, atau sekitar tiga hingga lima kali lebih tinggi dibandingkan sebagian besar hutan hujan tropis. Sekitar 80 persen cadangan karbon tersebut tersimpan di bawah permukaan tanah, sehingga relatif lebih stabil dan tidak mudah terlepas ke atmosfer.
Selain berfungsi sebagai penyerap karbon, mangrove juga memiliki peran penting dalam melindungi wilayah pesisir. Akar mangrove mampu meredam gelombang, mengurangi abrasi, menahan intrusi air laut, serta menjadi habitat dan tempat pembesaran berbagai jenis ikan, udang, dan kepiting yang menopang sektor perikanan.
Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa keunggulan mangrove tidak berarti menggantikan peran Hutan Amazon.
Amazon tetap merupakan hutan hujan tropis terbesar di dunia yang memiliki keanekaragaman hayati luar biasa. Kawasan ini menjadi rumah bagi jutaan spesies tumbuhan dan satwa serta berperan penting dalam menjaga siklus hidrologi dan iklim global melalui proses pembentukan hujan.
Dengan luas jutaan kilometer persegi, Amazon juga menyimpan karbon dalam jumlah total yang sangat besar, meskipun kepadatan karbon per hektarenya lebih rendah dibandingkan mangrove.
Indonesia sendiri memiliki posisi strategis karena memiliki sekitar 20 hingga 23 persen dari total luas mangrove dunia. Kondisi tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara dengan kawasan mangrove terluas di dunia sekaligus memiliki peran penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim global.
Berdasarkan berbagai hasil penelitian, kesimpulannya adalah mangrove lebih unggul dibandingkan Amazon dalam kemampuan menyimpan karbon per satuan luas, sedangkan Amazon tetap menjadi ekosistem daratan paling penting dari sisi luas kawasan, keanekaragaman hayati, dan pengaruhnya terhadap iklim dunia.
Karena itu, para peneliti menilai pelestarian mangrove dan Hutan Amazon harus berjalan beriringan. Keduanya merupakan aset ekologis yang memiliki fungsi berbeda, namun sama-sama penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan menghadapi perubahan iklim. ***










