Alarm Keras dari Ciracas, Warga Tagih CSR Berdampak

Lurah Ciracas Muhammad Arifin menyampaikan tanggapan saat menerima aspirasi peserta aksi damai yang digelar Organisasi Masyarakat Kebangkitan Garuda Nusantara (KGN) di halaman Kantor Kelurahan Ciracas, Jakarta Timur, Kamis (9/7/2026).

JAKARTA, SPN – Organisasi masyarakat (Ormas) Kebangkitan Garuda Nusantara (K LoGN) menggelar aksi damai di kawasan Ciracas, Jakarta Timur, Kamis (9/7/2026). Dipimpin Ketua Umum Gus Ahmad Suhadi, aksi tersebut membawa sejumlah aspirasi terkait transparansi pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR), sekaligus mendorong terbukanya kesempatan kerja yang lebih luas bagi masyarakat sekitar.

Aksi dimulai dari kawasan Waduk Embung Kaja sebelum massa bergerak menuju Kantor Kelurahan Ciracas. Berdasarkan video yang beredar, Lurah Ciracas Muhammad Arifin menerima perwakilan massa untuk mendengarkan aspirasi. Kegiatan berlangsung tertib dengan pengamanan aparat kepolisian dan Satpol PP.

Selain mendatangi kantor kelurahan, massa juga berencana menyampaikan aspirasi kepada sejumlah perusahaan yang beroperasi di kawasan Ciracas, di antaranya PT GarudaFood, PT Centex, PT Nelco, PT Cosmax, HokBen, PT Penerbit Erlangga, PT Monde, PT Mayora, dan PT Khong Guan.

Dalam tuntutannya, KGN meminta pemerintah kelurahan lebih aktif mengawal pelaksanaan TJSL agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Aspirasi yang disampaikan meliputi peningkatan transparansi dan akuntabilitas program CSR, pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan dan kesempatan kerja, pembentukan forum komunikasi antara perusahaan dan warga, serta pengawasan agar program CSR tidak berhenti pada kegiatan yang bersifat seremonial.

Aksi tersebut mendapat perhatian masyarakat. Sejumlah warga menilai keberadaan kawasan industri di Ciracas seharusnya mampu memberikan dampak yang lebih besar terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar, terutama melalui penyerapan tenaga kerja lokal.

Harapan serupa juga diarahkan kepada perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut, termasuk PT Sentral Kreasi Kencana dan PT Abakus Cash Solution. Warga berharap informasi lowongan pekerjaan dapat diakses secara lebih terbuka sehingga masyarakat sekitar memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti proses rekrutmen sesuai kompetensi yang dimiliki.

Sponsored Banner Pulauseribu.co.id

Di tengah masyarakat juga berkembang keluhan mengenai sulitnya memperoleh pekerjaan di sejumlah perusahaan. Sebagian warga mengaku masih mendengar adanya dugaan praktik percaloan atau permintaan imbalan oleh oknum dalam proses rekrutmen yang selama ini menjadi pembicaraan di lingkungan masyarakat. Mereka berharap seluruh perusahaan menerapkan sistem perekrutan yang profesional, transparan, dan bebas dari praktik yang merugikan pencari kerja.

Namun, persoalan yang mengemuka di Ciracas dinilai tidak berhenti pada isu kesempatan kerja maupun transparansi CSR semata. Aspirasi warga juga mencerminkan harapan agar keberadaan kawasan industri mampu berkontribusi lebih besar terhadap pembangunan wilayah.

Pelaksanaan TJSL dinilai memiliki ruang yang luas untuk mendukung berbagai sektor, mulai dari pelestarian lingkungan hidup melalui pengelolaan sampah, penghijauan, konservasi air, hingga peningkatan kualitas lingkungan permukiman. Di bidang sosial, CSR juga diharapkan mampu memperkuat program pendidikan, beasiswa, layanan kesehatan, kegiatan sosial dan keagamaan, pembinaan kepemudaan, pelatihan keterampilan, serta pemberdayaan usaha mikro dan ekonomi masyarakat.

Bagi warga, ukuran keberhasilan investasi tidak hanya dilihat dari besarnya nilai modal yang ditanamkan perusahaan, tetapi juga dari kontribusinya terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat. Penyerapan tenaga kerja lokal, program TJSL yang berkelanjutan, serta kepedulian terhadap lingkungan menjadi indikator bahwa kehadiran dunia usaha benar-benar memberikan manfaat bagi wilayah sekitarnya. Namun dalam realisasinya, memang dibutuhkan transparansi dan pengawalan agar tidak menjadi celah bagi kelompok informal yang memanfaatkan kelemahan perusahaan.

Di lain sisi, aksi KGN berlangsung di tengah pembahasan Panitia Khusus (Pansus) CSR DPRD DKI Jakarta yang tengah menyusun rekomendasi pembentukan peraturan daerah mengenai pelaksanaan CSR.

Regulasi tersebut diharapkan mampu memperkuat tata kelola TJSL agar lebih transparan, akuntabel, dan partisipatif, baik bagi perusahaan swasta maupun badan usaha milik daerah.

Ke depan, pelaksanaan CSR diharapkan tidak hanya berorientasi pada besarnya anggaran yang disalurkan, tetapi juga pada dampak nyata yang dirasakan masyarakat.

Sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dinilai menjadi kunci agar program TJSL mampu mendukung pembangunan lingkungan, meningkatkan kesejahteraan warga, serta memperkuat kualitas hidup masyarakat di tengah berkembangnya Jakarta sebagai kota global. Karena kota global berbudaya untuk siapa? Dan apakah budaya itu akan hidup jika dapur tidak menyala. ***