JAKARTA, SPN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendorong kesiapsiagaan lintas sektor menghadapi dampak El Nino 2026 yang kini memasuki kategori kuat.
Berdasarkan pemantauan terbaru, El Nino telah memasuki kategori kuat dengan peluang mencapai 98 persen. Fenomena ini berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan garis khatulistiwa selama puncak musim kemarau.
BMKG memperkirakan El Nino akan berlangsung 9 hingga 12 bulan dan bertahan hingga awal tahun 2027. Puncaknya bertepatan dengan musim kemarau Juli hingga Oktober 2026, di mana curah hujan di bawah normal.
Dampaknya sangat serius. BMKG mencatat sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori ekstrem, lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan, yang meliputi Sumatera bagian selatan, sebagian besar Jawa, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi bagian utara dan selatan, Maluku, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua Selatan.
Yang mengkhawatirkan, dari 699 Zona Musim (ZOM) yang dipetakan BMKG, sebanyak 98 ZOM yang karakteristiknya biasanya hujan sepanjang tahun kini ikut terdampak kekeringan. Wilayah tersebut termasuk sebagian Sumatera, Kalimantan Barat, hingga Papua yang normalnya tidak pernah benar-benar kering.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menegaskan, El Nino dan musim kemarau adalah dua hal berbeda. Musim kemarau siklus tahunan, sedangkan El Nino fenomena periodik yang memperkuat kondisi kering ketika berlangsung bersamaan.
Wilayah dengan dampak paling signifikan meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatera bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan.
BMKG mengingatkan risiko lanjutan berupa kebakaran hutan dan lahan (karhutla), penurunan kualitas udara, gangguan pangan, hingga peningkatan ISPA dan penyakit akibat paparan suhu panas.
Masyarakat diminta melakukan langkah antisipatif seperti penyesuaian pola tanam, pengelolaan irigasi efisien, dan pemanfaatan informasi iklim BMKG sebagai dasar keputusan pertanian.









