JAKARTA, SPN — Denting terbangan, kecimpring, dan hentakan bass berpadu mengisi ruang utama Pondok Pesantren Al Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (5/9/2026). Lantunan Maulid Barzanji mengalir khidmat, sementara ratusan hadirin larut ketika nama Baginda Nabi Muhammad SAW disebut-sebut dalam setiap bait maulid.
Di balik penampilan yang memukau pada Festival Seni Budaya Islami (FSBI) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, Tim Hadroh Syubbanul Hamid menyimpan kisah panjang tentang konsistensi menjaga tradisi. Selama hampir 15 tahun, kelompok hadroh ini menjadi ruang pembinaan santri sekaligus regenerasi pecinta seni islami di lingkungan Pondok Pesantren Al Hamid.
Koordinator Tim Hadroh Syubbanul Hamid, Syahid Abdullah, mengatakan perjalanan kelompok ini tidak lepas dari tantangan regenerasi. Anggota tim berasal dari pelajar tingkat SMP hingga kelas III SMA, sehingga hampir setiap tahun terjadi pergantian personel ketika santri menamatkan pendidikannya.
“Kendalanya bukan di latihan, tetapi karena anggotanya berbeda-beda jenjang kelas. Kalau ada yang lulus, kami harus menyiapkan personel baru agar langsung bisa mengisi posisi dalam tim,” ujar Syahid.
Menurut dia, proses kaderisasi dilakukan sejak dini. Anggota baru tidak hanya belajar memainkan alat hadroh seperti terbangan dan kecimpring, tetapi juga dibimbing memahami irama, adab majelis, hingga teknik membaca maulid secara benar.
Syubbanul Hamid membawakan berbagai kitab maulid yang menjadi tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, di antaranya Maulid Ad-Diba’i, Barzanji, dan Simtud Durar. Selain itu, mereka memiliki repertoar qasidah yang disesuaikan dengan berbagai momentum keagamaan, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra Mikraj, haflah, maupun kegiatan dakwah masyarakat.
Vokalis tim, Muhammad Nabil Tamami, menuturkan bahwa hadroh bukan sekadar seni pertunjukan. Baginya, setiap latihan merupakan bagian dari proses mencintai Rasulullah SAW melalui syair-syair pujian yang diwariskan para ulama.
“Kami tidak hanya belajar vokal atau tabuhan. Yang paling penting adalah memahami makna syair dan menjadikan hadroh sebagai media menumbuhkan mahabbah kepada Rasulullah SAW,” kata Nabil.
Komitmen menjaga kualitas itu berbuah prestasi. Pada 2023, Syubbanul Hamid berhasil meraih Juara I Pembacaan Maulid Barzanji tingkat Nahdlatul Ulama se-DKI Jakarta, sebuah capaian yang mempertegas eksistensi mereka sebagai salah satu tim hadroh pelajar berprestasi di ibu kota.
Bagi para personelnya, penghargaan bukanlah tujuan akhir. Yang lebih penting adalah memastikan tradisi pembacaan maulid tetap hidup di tengah generasi muda, ketika banyak kesenian religius mulai ditinggalkan oleh perkembangan zaman.
Melalui irama yang sederhana namun sarat makna, Syubbanul Hamid membuktikan bahwa hadroh bukan hanya warisan budaya Islam, melainkan juga jembatan pendidikan karakter mengajarkan disiplin, kebersamaan, serta kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW yang terus diwariskan dari satu angkatan kepada angkatan berikutnya. ***





