“Dulu saya kira tidak tahu adalah kelemahan. Sekarang saya justru tahu, mengakui belum tahu adalah awal dari mencari tahu.”– Sagara Ahmad –
Waktu masih duduk di sekolah dasar, Baba pernah bercerita bahwa keluarga kami masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Si Pitung, sosok yang namanya begitu lekat dengan cerita rakyat Betawi.
Sebagai anak kecil, tentu saja saya bangga. Ada semacam kebesaran hati ketika seorang ayah mengatakan bahwa darah kami tersambung pada seorang jagoan dan pejuang.
Sampai kemudian, sebuah tanya melintas di kepala.
“Kalau kita masih kerabat Si Pitung, kenapa keluarga kita ada di pulau?”
Baba diam.
Saya mengejar lagi dengan keluguan anak SD yang tanpa tedeng aling-aling.
“Kenapa kakek buyut tidak ikut berjuang bersama Si Pitung melawan kompeni? Apa kakek buyut pengecut sampai memilih lari ke pulau?”
Baba tetap tidak punya jawaban.
Barangkali sejak hari itulah saya mulai belajar: cerita yang diwariskan orang tua tidak selalu datang bersama seluruh jawabannya. Ada cerita yang terus hidup karena dipercaya, ada yang bertahan karena terus dirawat, dan ada pula cerita yang menguap sebagian faktanya, tetapi telanjur membatu dalam ingatan kolektif masyarakat.
Orang pulo punya cara sendiri merawat masa lalu. Saat sejarah tidak tertulis dalam buku atau arsip resmi, ia memilih hidup dalam percakapan di beranda rumah, warung kopi, dermaga, atau dalam ingatan para tetua yang menjadi jembatan rapuh antargenerasi.
Salah satu ingatan yang menolak mati itu bernama Suki.
Nama yang Terus Disebut
Di Pulau Panggang, nama Suki akan selalu berkelindan setiap kali orang-orang tua mengungkit lembaran kelam yang mereka sebut Zaman Parakan. Kisahnya adalah ramuan pekat antara misteri kematian warga, pesugihan, ilmu magis, amuk massa, hingga eksekusi mati di tengah laut.
Namun, semakin cerita itu digali, anomalinya semakin nyata. Kisah Suki tidak pernah tunggal.
Pada satu sudut warung, Suki digambarkan sebagai dukun pesugihan kejam yang menumbalkan manusia. Di sudut lain, ia hanyalah seorang nelayan biasa bukan juragan, melainkan sekadar buruh manyang (jaring) milik tokoh terpandang di Pulau Panggang. Keterangan ini memang murni penuturan lisan yang belum teruji dokumen pembanding.
Namun, logika dasar saya terusik: Jika Suki sekaya dan sesakti itu dari hasil pesugihan, mengapa akhir hayatnya tetap sebagai anak buah yang melaut demi sesuap nasi? Di mana kekayaan dan pengaruh yang ia tinggalkan?
Pertanyaan itu mengambang tanpa jawaban hingga hari ini.
Tujuh Kematian Tanpa Catatan
Mitos Suki meraksasa karena dikaitkan dengan tragedi nyata: tujuh orang warga meninggal berurutan dalam rentang waktu yang pendek.
Kondisinya mengerikan. Para tetua menggambarkan organ dalam para korban keluar secara paksa melalui dubur. Sayangnya, hingga tulisan ini diturunkan, saya belum menemukan satu pun catatan medis, laporan kepolisian, atau dokumen kematian resmi yang mampu memverifikasi kengerian tersebut.
Yang tersisa mutlak hanya ingatan. Ingatan bahwa pernah ada kematian massal yang tak lazim, dan masyarakat dalam kepanikan mereka membutuhkan satu nama untuk menjelaskan sesuatu yang gagal dicerna oleh akal sehat mereka. Nama itu adalah Suki.
Apakah masyarakat kala itu punya bukti, ataukah Suki hanyalah kambing hitam dari sebuah epidemi yang tak dipahami? Saya tidak tahu, dan esai ini tidak lahir untuk berpura-pura tahu.
Ketika Desas-Desus Menjadi Keyakinan
Saya tidak sedang membasuh dosa Suki, tidak pula sedang menuduh masyarakat memfitnahnya. Kedua kesimpulan itu terlalu gegabah. Suki sudah lama melebur bersama laut dan tidak bisa membela diri.
Dalam sebuah rekaman video kesaksian warga Pulau Panggang yang saya temukan, polanya persis: Suki dituduh, tetapi tak pernah ada satu pun bukti sahih yang mengikat namanya pada kematian warga. Kendati demikian, seluruh versi cerita berujung pada satu muara dramatis yang sama: Suki dikepung massa, ditangkap, dan setelah berbagai upaya pembunuhan gagal karena kesaktiannya, ia dibuang ke laut hingga tewas.
Sebagai anak pulau, di sinilah nalar usil saya kembali berontak. Jika Suki memang memiliki ilmu sekebal dan sesakti itu, mengapa ia membiarkan dirinya tertangkap? Mengapa keajaiban itu tidak digunakannya untuk meloloskan diri?
Mungkin, yang perlu kita bedah bukan apakah Suki sakti, melainkan mengapa masyarakat begitu percaya bahwa ia sakti.
Eksekusi yang Lenyap dari Hukum
Penuturan Syukur Fattah menambah tebal kabut misteri ini. Ia menyebut warga yang mengeksekusi Suki sempat ditangkap aparat, namun tak lama kemudian dibebaskan begitu saja.
Lagi-lagi, tidak ada jejak hukumnya. Jika eksekusi massal itu benar terjadi, bagaimana mungkin sebuah tindakan penghakiman jalanan tidak meninggalkan dokumen hukum yang jelas? Siapa yang menangkap mereka? Ataukah bagian ini sengaja dikaburkan oleh sang waktu?
Ketiadaan dokumen tidak berarti peristiwa itu fiktif. Sebaliknya, riuh rendahnya cerita selama puluhan tahun juga tidak otomatis mengubah dongeng menjadi fakta sejarah.
Di celah sempit antara mitos dan fakta itulah, proyek Jejak Pulau ini ingin berjalan. Kami mengumpulkan serpihan ingatan para sesepuh, melacak nama-nama korban, dan mencari silsilah Suki. Jika ada lembar arsip yang tersisa, kami periksa. Jika ada suara yang berbeda, kami dengarkan.
Sebab jika cerita yang telanjur dianggap suci itu ternyata memiliki retakan atau kebenaran lain, kita harus memberi ruang bagi sisi itu untuk bernapas.
Belum Selesai Diceritakan
Dahulu, keheningan Baba saat ditanya soal Si Pitung membuat saya tidak nyaman. Ketidaknyamanan yang sama kembali saya rasakan di bangku sekolah dasar. Saya ingat betul momen di kelas matematika Pak Fachri. Ketika beliau bertanya, “Apakah semua sudah paham?”, seluruh kelas memilih diam membisu.
Pak Fachri kemudian berkata, “Baik, kalau sudah paham, saya yang bertanya.” Seketika, ruang kelas mendadak mencekam.
Dulu saya mengira diam adalah tanda mengerti. Belakangan saya paham, kami diam bukan karena tahu, melainkan karena kami belum menemukan cara untuk merumuskan apa yang tidak kami pahami. Ironisnya, sistem sering kali mencap kata “tidak tahu” sebagai sebuah kebodohan atau ketidakmampuan.
Berapa banyak dari kita yang bungkam bukan karena bodoh, melainkan karena tidak diberi ruang untuk mengaku jujur bahwa kita sedang tersesat?
Misteri Suki mirip dengan ruang kelas Pak Fachri. Ada perbedaan mendasar antara tidak tahu dengan menolak tahu. Yang pertama adalah awal dari ilmu pengetahuan; yang kedua adalah pangkal dari petaka sejarah.
Jejak Pulau tidak datang sebagai hakim yang membawa ketukan palu kebenaran. Kami hanya ingin mengajak generasi hari ini melakukan hal yang sederhana namun paling berisiko: berani bertanya saat semua orang merasa sudah tahu.
Sebab mengakui bahwa kita belum tahu, adalah langkah pertama untuk benar-benar mengerti.








