Serunya Memancing di Gorong-Gorong Pintu Utama JI-Expo Kemayoran, Berburu Ikan Buang Sial

KEMAYORAN, SPN — Gorong-gorong dan saluran air di depan pintu masuk utama JI-Expo Kemayoran, Jakarta Pusat, menjadi tempat alternatif bagi warga untuk menyalurkan hobi memancing saat libur kerja. Beragam ikan, mulai dari mujair, nila, hingga gabus, menjadi daya tarik meski pemancing harus berhadapan dengan tumpukan sampah.

Heri, warga Kebon Kosong, mengaku rutin memancing di lokasi tersebut setiap Minggu saat libur kerja. Ia menyebut ikan mujair dan nila cukup mudah ditemukan di aliran air itu.

Namun, kondisi saluran yang dipenuhi sampah menjadi kendala tersendiri. Tak jarang, kail pemancing justru tersangkut sampah yang terbawa aliran air.

“Kalau hari Minggu saya biasanya mancing di sini. Ikannya ada, mujair sama nila. Cuma memang banyak sampah, jadi kadang kail malah nyangkut sampah,” ujar Heri saat ditemui, Minggu, (25/10/2026).

Kondisi tersebut tidak menyurutkan minat warga lain untuk memancing. Ryan, seorang pelajar SMP, mengaku menjadikan kegiatan itu sebagai cara mengisi waktu luang daripada tidak memiliki aktivitas saat libur.

Ia mengatakan hasil tangkapannya kerap dibawa pulang untuk diberikan kepada ibunya.

“Daripada enggak ada kegiatan, mending mancing. Kalau dapat banyak, saya kasih ke ibu,” kata Ryan.

Menurut Ryan, aliran air di kawasan Kemayoran itu masih cukup bening di sejumlah bagian dan menjadi habitat berbagai jenis ikan. Selain lele, mujair, dan nila, ia menduga ada ikan yang berasal dari buangan warga apartemen atau hotel di sekitar kawasan tersebut.

Meski demikian, ia menyayangkan banyaknya sampah yang membuat aktivitas memancing kurang nyaman. Selain menyulitkan saat menarik kail, sampah yang tersangkut juga beragam, bahkan hingga pakaian dalam.

Berbeda dengan Heri dan Ryan, Rizal memilih berburu ikan menggunakan senapan angin khusus penembak ikan. Baginya, tumpukan sampah di saluran air depan JI-Expo bukan hambatan utama karena kawasan tersebut masih menyimpan potensi ikan gabus.

Menurut Rizal, sampah dan aliran air di lokasi itu menjadi bagian dari lingkungan tempat ikan bertahan hidup. Ia juga menyebut ikan sapu-sapu tidak banyak ditemukan, sementara ikan-ikan kecil seperti ikan gapi menjadi sumber makanan bagi predator.

“Nah, di sini sapu-sapu enggak ada, justru banyak ikan gapi jadi makanan predator kayak ikan gabus,” ujarnya.

Heri mengenang, beberapa tahun lalu kawasan tersebut ramai didatangi pemancing setiap Sabtu dan Minggu. Namun, menurut dia, sebagian pemancing kini beralih ke kawasan Blok A yang terintegrasi dengan Danau Sunter.

Lokasi itu dinilai menawarkan pilihan ikan yang lebih beragam, termasuk lele, patin, hingga koi yang diduga berasal dari ikan peliharaan yang dilepas atau dibuang pemiliknya.

Bagi Heri, asal-usul ikan bukan persoalan utama selama kegiatan memancing dilakukan dengan cara yang wajar. Ia menganggap memancing sebagai kegiatan rekreasi sekaligus cara menikmati waktu luang.

“Buat saya itu aman saja, enggak masalah. Karena fitrahnya ikan itu dipancing, dijaring. Asalnya dari mana, mau disebut ikan buangan, saya enggak ada urusan. Kan kita juga memancing dahulu berdoa kepada Tuhan,” katanya.

Di tengah beragam ikan yang menjadi incaran, tumpukan sampah tetap menjadi persoalan yang disayangkan para pemancing. Bagi mereka, keberadaan ikan di saluran air menjadi daya tarik tersendiri, tetapi kondisi lingkungan yang lebih bersih tentu akan membuat kegiatan memancing semakin nyaman. ***

No More Posts Available.

No more pages to load.