Saat Kemarau Mengering, Dua Mata Air Ditemukan di Bojong Timur

Relawan menggelar upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di kawasan mata air Bojong Timur, Jawa Barat, di tengah proses restorasi yang masih berlangsung.

JAWA BARAT, SPN— Batu kali berpindah dari satu tangan ke tangan lain pada pagi 17 Agustus 2026. Puluhan warga dan relawan berbaris di lereng, mengoper batu secara estafet menuju lokasi pembangunan bronjong. Struktur itu diperlukan untuk memperkuat tebing dan melindungi bak penampung air yang sedang dibangun.

Di tempat lain, kemarau membuat air menjadi persoalan. Di Bojong Timur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, warga justru sedang menjaga dua sumber air yang dianggap penting bagi kawasan, yakni Mata Air Legok Menteng dan Mata Air Cikole.

Pekerjaan restorasi dimulai 13 Agustus dan masih berlangsung ketika peringatan Hari Kemerdekaan digelar. Sekitar 30 relawan terlibat dalam kegiatan tersebut.

Di antara pekerjaan, mereka menggelar upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di sekitar mata air. Setelah upacara selesai, pekerjaan kembali dilanjutkan.

Tidak ada seremoni khusus. Batu kembali dioper, tanah dibersihkan, dan struktur penguat dipasang.

Mata air Legok Menteng telah lama dikenal masyarakat Bojong Timur. Warga memanfaatkannya secara turun-temurun, terutama untuk kebutuhan rumah tangga.

Namun, kondisi kawasan berubah. Longsor terjadi di sekitar sumber air dan perawatan tidak berjalan optimal. Debitnya kemudian menurun.

Sementara itu, mata air Cikole memiliki cerita berbeda.

Relawan KTH Rahayu menemukan mata air tersebut sekitar dua bulan lalu, ketika mencari sumber air di tengah kemarau. Lokasinya berada di lembah yang sebelumnya tertutup semak dan belum pernah dimanfaatkan masyarakat.

Penemuan Cikole terjadi ketika kebutuhan terhadap air semakin terasa.

Relawan melakukan pembuatan bronjong untuk memperkuat tebing sekaligus melindungi area bak penampung air yang akan dibangun di sebelahnya dalam kegiatan restorasi mata air di Bojong Timur, Jawa Barat.
Relawan memasang crucuk bambu sebagai struktur penguat di sekitar titik mata air untuk membantu menahan tanah dan menjaga kestabilan kawasan dalam proses restorasi Mata Air Bojong Timur, Jawa Barat.

Kegiatan pencarian sumber air itu berkaitan dengan upaya KTH Rahayu dan Jejakin memulihkan kawasan melalui penanaman. Sekitar 22 hektare telah ditanami tanaman buah dan cengkeh. Mereka juga mempersiapkan penanaman sekitar 5.000 bambu di kawasan kurang lebih 50 hektare.

Jejakin kemudian mengajak Jaga Semesta untuk membantu mengidentifikasi dan merestorasi sumber air tersebut.

Jaga Sumber, Jaga Kawasan

Restorasi bukan hanya pekerjaan di titik tempat air keluar dari tanah.

Relawan membersihkan kawasan, mengangkat sedimen, memasang bronjong, membuat bak penampung dan memperkuat titik sumber air dengan crucuk bambu.

Koordinator Lapangan Restorasi Mata Air Jaga Semesta, Djenarto, mengatakan keberhasilan restorasi tidak dapat diukur hanya dari pembangunan fisik.

“Yang paling penting adalah mengembalikan fungsi mata air sekaligus memastikan masyarakat dapat menjaganya setelah kami selesai bekerja,” kata Djenarto kepada SPN, Senin (17/8/2026).

Karena itu, masyarakat dilibatkan sejak awal.

Warga Bojong Timur, KTH Rahayu, Jaga Semesta, Jejakin, relawan KKN UIN Bandung, Pemerintah Desa Bojong Timur dan perusahaan mitra bekerja dengan pembagian peran masing-masing.

Ada yang membersihkan lokasi. Ada yang mengangkut batu. Ada yang memasang struktur penguat. Sebagian lainnya membantu berdasarkan pengetahuan mengenai kondisi kawasan.

Founder Jejakin, Arfan Arlanda, mengatakan sumber air tidak dapat dipisahkan dari daerah tangkapannya.

“Menjaga mata air tidak cukup hanya dengan memulihkan titik keluarnya air. Kita harus menjaga daerah tangkapannya dengan tanaman yang tepat dan sesuai dengan karakter ekosistem setempat,” ujarnya.

Menurut Arfan, tutupan vegetasi membantu tanah menyerap air hujan dan menyimpannya. Karena itu, restorasi mata air perlu berjalan bersama pemulihan lanskap.

 

Relawan dan masyarakat bergotong royong memasang bronjong untuk memperkuat tebing dan menjaga kestabilan kawasan mata air dalam proses restorasi di Bojong Timur, Jawa Barat.

Mata air Legok Menteng telah dimanfaatkan warga. Namun mata air Cikole belum.

Ke depan, air dari kedua sumber tersebut direncanakan dapat disalurkan melalui jaringan pipa untuk mendukung kebutuhan masyarakat. Namun, pemanfaatannya tetap harus menyesuaikan debit dan daya dukung mata air.

Keduanya juga mengalir menuju alur sungai yang bersifat intermittent. Aliran jenis ini tidak berlangsung sepanjang tahun dan sangat dipengaruhi musim serta ketersediaan air.

Karena itu, pekerjaan setelah restorasi menjadi sama pentingnya dengan pekerjaan saat ini.

Masyarakat perlu menjaga kawasan. Vegetasi harus dipelihara. Sumber air perlu dipantau. Pengambilan air harus disesuaikan dengan kemampuan sumbernya.

Hasil restorasi juga belum dapat dinilai sepenuhnya. Pekerjaan masih berlangsung dan pemantauan debit serta kualitas air akan dilakukan setelah pembangunan selesai.

Bojong Timur merupakan lokasi pertama kegiatan restorasi Jaga Semesta di Jawa Barat. Sebelumnya, organisasi tersebut telah melakukan restorasi di lebih dari 30 mata air di Pulau Jawa.

Bagi warga, hasil akhirnya bukan sekadar sebuah bak penampung atau tebing yang lebih kuat.

Yang dipertaruhkan adalah keberlanjutan sumber air.

Di tengah kemarau, dua mata air itu mengingatkan bahwa persoalan air tidak selalu dimulai ketika keran berhenti mengalir. Ia bisa dimulai jauh sebelumnya dari tanah yang kehilangan tutupan, lereng yang longsor, sumber air yang tak terawat, hingga kawasan tangkapan yang tidak lagi mampu menyimpan air.

Di Bojong Timur, pekerjaan untuk memulihkan semuanya baru dimulai.

Dan ketika para relawan selesai bekerja, tanggung jawab itu akan kembali kepada mereka yang tinggal di sekitarnya dan pemangku wilayah lintas sektor. ***

No More Posts Available.

No more pages to load.