JAKARTA, SPN – Nilai tukar rupiah ditutup melemah 30 poin atau 0,17 persen ke level Rp 18.022 per dolar AS pada perdagangan Rabu (21/10/2026), meski Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan.
Rupiah dibuka stabil di Rp 17.992, lalu melemah hingga Rp 18.022 di akhir perdagangan. JISDOR BI justru menguat 0,11 persen jadi Rp 17.986 dari Rp 18.006.
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 20-21 Oktober 2026, BI mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen, Lending Facility 6,50 persen, dan menaikkan Deposit Facility 25 basis poin dari 4,75 persen menjadi 5,00 persen.
BI juga menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) rupiah secara bertahap: dari 9% jadi 8 persen November, dan 7 persen Desember 2026. Tujuannya adalah untuk mendorong likuiditas perbankan.
“Sasaran inflasi tetap dipertahankan pada kisaran 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen,” kata BI.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai keputusan BI sudah tepat: “Kenaikan suku bunga berisiko menekan konsumsi dan investasi, sementara dampaknya terhadap rupiah bisa terbatas karena tekanan saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen eksternal dan kekhawatiran terkait MSCI.”
“Tentu, karena BI telah diperkirakan untuk menaikkan suku bunga, sehingga hal ini membebani rupiah,” tutur Lukman.
Analis Ibrahim Assuaibi dari Traze Andalan Futures memproyeksikan rupiah masih fluktuatif di rentang Rp 18.020-18.070 untuk perdagangan berikutnya, sepekan Rp 17.850-18.200.
Tekanan datang dari eksternal: IHK dan IHP AS September lebih tinggi dari perkiraan, memperkuat ekspektasi The Fed akan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir 2026. Yield US Treasury 10 tahun di 5,15 persen, 2 tahun 4,77 persen. Brent di US$ 109,39 naik 0,55 persen karena serangan Houthi ke fasilitas Saudi Aramco, kapal tanker raksasa terbakar setelah menghantam ranjau di Selat Hormuz.
Untuk perdagangan Kamis (22/10/2026), Ekonom Unair Rahma Gafmi menilai: “Ekspektasi ini menjaga yield US Treasury tetap atraktif, sehingga memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan emerging markets, termasuk Indonesia.”







