JAKARTA, SPN – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di level Rp17.500-an pada Kamis, (10/09/2026). Berdasarkan data pasar, USD/IDR tercatat di level Rp17.507,5.
Posisi tersebut melanjutkan tren penguatan rupiah. Pada perdagangan Rabu 9 September 2026, rupiah menguat 0,7 persen ke level Rp17.508 per dolar AS. Angka ini menjadi level terkuat rupiah sejak 18 Mei 2026.
Penguatan rupiah tidak terlepas dari pelemahan indeks dolar AS atau DXY. DXY turun 0,4 persen pada Selasa dan kembali melemah 0,02% pada Rabu ke level 98,8. Posisi itu merupakan level terendah indeks dolar AS dalam hampir lima bulan terakhir.
Selain itu, kenaikan harga sejumlah komoditas seperti minyak kelapa sawit mentah/CPO, batu bara, dan tembaga dalam satu bulan terakhir turut menopang rupiah. Kenaikan harga komoditas dinilai dapat mengompensasi tekanan akibat tingginya impor minyak terhadap neraca perdagangan Indonesia.
“Penguatan rupiah terjadi ketika indeks dolar AS bergerak melemah,” tulis Stockbit Group dalam ulasannya.
Masyarakat diimbau memantau kurs secara berkala karena dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan pasar.
Di sisi lain, harga minyak Brent pada Rabu sore naik 2,6 persen ke US$101 per barel. Kenaikan dipicu kekhawatiran gangguan logistik pasokan energi di Selat Hormuz seiring eskalasi konflik AS-Iran.
Investor juga masih menunggu pengumuman besaran nilai buyback obligasi pemerintah AS tenor 10-20 tahun, serta data inflasi AS periode Agustus 2026 yang dijadwalkan rilis akhir pekan ini.








