JAKARTA, SPN — Sejumlah pegiat Eco Enzyme Nusantara (EEN) Bekasi rela mengorbankan waktu dan tenaga untuk mendampingi penyemprotan eco enzyme bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi dan petugas pemadam kebakaran (Damkar) di TPS Sumur Batu, Bantargebang.
Kegiatan berlangsung selama tujuh hari, 9-15 Agustus 2026. Bagi para relawan, keterlibatan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi lingkungan, khususnya persoalan bau menyengat dan gas metana di kawasan timbunan sampah.
Komunitas Relawan Eco Enzyme Nusantara (REEN) Bekasi menjadi wadah masyarakat untuk belajar membuat dan memanfaatkan eco enzyme.
Inisiator kegiatan penyemprotan, Emmy Yuli Satsiwiati, SE, yang juga Leader EEN Bekasi, mengatakan dirinya bergabung dengan komunitas tersebut sejak akhir 2020 dan dipercaya menjadi admin grup WhatsApp pada 2021.
“Kami ingin belajar membuat eco enzyme karena manfaatnya yang luar biasa dan karena kecintaan kepada bumi,” kata Emmy kepada SPN melalui sambungan telepon, Sabtu (15/8/2026).
Kepedulian terhadap kondisi lingkungan kemudian mendorong para relawan turun langsung mendampingi penyemprotan di TPS Sumur Batu.
“Kami mempunyai keprihatinan yang sama terhadap buruknya kualitas udara di Bekasi akibat tingginya gas metana. Kami mempunyai produk eco enzyme yang bagus yang bisa menjadi solusi penanganan masalah tersebut,” ujarnya.
Pelaksanaan kegiatan di lapangan tidak lepas dari berbagai tantangan. Kondisi jalan di kawasan TPS menjadi salah satu kendala karena terdapat truk yang parkir di luar jam operasional sehingga kendaraan Damkar tidak selalu dapat mencapai titik penyemprotan yang dituju.
Tumpukan sampah yang tinggi juga membuat jangkauan water cannon terbatas. Sementara penggunaan selang untuk menjangkau bagian tertentu harus mempertimbangkan kondisi medan dan potensi longsoran timbunan sampah.
Penyemprotan pada malam hari menjadi tantangan tersendiri. Para relawan harus bekerja dalam kondisi minim penerangan dan sebagian baru tiba di rumah sekitar tengah malam setelah berangkat sekitar pukul 20.00 WIB.
“Karena saya yang menginisiasi kegiatan ini, saya harus siap dan bertanggung jawab menyelesaikan dengan kondisi yang ada di lapangan,” ungkapnya.
Emmy mengaku selama ini jarang mengemudi pada malam hari karena kondisi penglihatannya yang sudah berkurang. Namun, kehadiran relawan lain membuat semangatnya tetap terjaga.
Salah satunya Gung Endah dari Batu, Malang, yang datang ke Bekasi untuk mengikuti kegiatan penyemprotan di TPS Sumur Batu.
“Karena mereka sudah berkomitmen untuk membuat bumi makin sehat, mereka tetap melakukannya. Di dalam hatinya sudah ada rasa cinta terhadap bumi. Dan cinta kan butuh perjuangan,” kata Emmy.
Tidak hanya pada malam hari, para relawan juga mengorbankan waktu istirahat ketika penyemprotan dilakukan pagi hari. Mereka harus berangkat sekitar pukul 05.00 WIB setelah salat Subuh.
“Demi tujuan besar, kami berusaha memanfaatkan sebaik mungkin mumpung Bapak Wali Kota mendukung, DLH memberi jalan dan Damkar bisa bekerja sama,” imbuhnya.
Semangat gotong royong juga ditunjukkan melalui perhatian para relawan kepada petugas Damkar.
Emmy bersama Leader Eco Enzyme Jakarta Timur, Endang Teguh, memberikan hadiah berupa produk eco enzyme kepada petugas Damkar yang bertugas. Setiap hari, sekitar 10 petugas menerima hadiah tersebut sebagai bentuk apresiasi atas dukungan mereka selama kegiatan penyemprotan.
Endang Teguh bersama sejumlah pegiat eco enzyme juga secara mandiri menyiapkan konsumsi berupa kue, minuman, dan buah untuk para petugas Damkar.
Menurut Emmy, pemberian tersebut menjadi bentuk kebersamaan sekaligus ucapan terima kasih kepada petugas yang telah membantu kegiatan selama sepekan.
“Ini kebiasaan kami untuk saling menguatkan dan sebagai bentuk terima kasih kepada petugas Damkar yang sudah bekerja dengan luar biasa,” katanya.
Meski lelah, para relawan memilih tetap bertahan. Mereka berharap kegiatan tersebut dapat menjadi sarana memperkenalkan eco enzyme sekaligus mendorong masyarakat lebih peduli terhadap persoalan sampah.
Salah satu hal yang berkesan bagi relawan adalah respons petugas Damkar selama mengikuti kegiatan penyemprotan. Menurut relawan, sejumlah petugas mengaku merasakan perubahan bau setelah penyemprotan eco enzyme.
“Saya enggak sangka eco enzyme bisa sedahsyat ini, langsung bau menyengat hilang,” kata salah seorang petugas sebagaimana dituturkan kembali oleh Emmy.
Para pegiat EEN Bekasi berharap persoalan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat juga dinilai perlu berperan aktif dengan memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah.
“Sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi tanggung jawab kita bersama. Jadi pemerintah dan masyarakat sama-sama berkolaborasi untuk mengatasi masalah persampahan,” terangnya.
Komunitas EEN Bekasi saat ini tercatat memiliki 243 anggota dalam grup komunitas. Namun, jumlah pegiat yang terlibat dalam kegiatan eco enzyme diperkirakan lebih banyak karena masih ada pegiat yang belum bergabung dalam grup.
Data anggota komunitas juga tengah dirapikan untuk memperkuat koordinasi dan memperluas edukasi mengenai eco enzyme.
Para relawan berharap pengalaman penyemprotan di TPS Sumur Batu dapat menjadi pembelajaran bagi daerah lain. Mereka berharap pemerintah daerah di berbagai wilayah turut memberikan ruang bagi inovasi masyarakat dalam menangani persoalan lingkungan.
“Dengan terbuktinya eco enzyme bisa mengurangi metana dan menghilangkan bau menyengat, kami berharap TPA-TPA lain akan melakukan hal yang sama, tentunya dengan dukungan pemerintah setempat,” harapnya.


Mereka berharap kolaborasi pemerintah, petugas lapangan, dan masyarakat dapat terus diperkuat sehingga persoalan sampah dapat ditangani secara bersama-sama.
“Semoga Indonesia bisa bersih dari metana dan langit bisa biru lagi, tidak abu-abu. Aamiin,” tandasnya. ***









