TULUNGAGUNG, SPN — Komunitas Gereja Paroki Santa Maria Dengan Tidak Bernoda Asal (DTBA) Tulungagung menggelar Pelatihan Eco Enzyme sebagai wujud gerakan pertobatan ekologis sekaligus pemberdayaan sosial ekonomi umat melalui pengelolaan sampah organik rumah tangga, belum lama ini yang digelar, Minggu (6/9/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) – Paroki Santa Maria DTBA di Aula Cornelius tersebut diikuti 120 peserta, melampaui 110 orang yang sebelumnya mendaftar. Peserta berasal dari perwakilan lingkungan dan stasi, guru serta siswa sekolah Katolik, hingga warga Barak Bhakti Kutoanyar.
Ketua lingkungan PSE – Paroki Santa Maria Dengan Tidak Bernoda (DTBA), Ernest Jacob, sekaligus ketua pelaksana, mengatakan pelatihan ini lahir dari kepedulian Gereja terhadap persoalan sampah organik yang semakin membebani lingkungan.
“Pelatihan ini menjadi wujud nyata pertobatan kami terhadap bumi tercinta. Kami ingin umat belajar mengelola sampah rumah tangga dengan baik, menggunakan produk yang sehat, sekaligus membuka peluang meningkatkan ekonomi keluarga,” ujar wanita asal Tulungagung ini.
Materi pelatihan disampaikan oleh Gung Endah Tuti Rahayu, S.Sos selaku mentor dan praktisi Ecoenzim Enzyme. Ia membawakan tiga sesi utama, yakni sosialisasi Eco Enzyme, praktik pembuatan Eco Enzyme, serta pelatihan membuat sabun batang dan sabun cair berbahan dasar Eco Enzyme.
Gung Endah menegaskan bahwa tujuan utama pelatihan adalah membangun kesadaran mengolah sampah organik, sedangkan kelas sabun menjadi bentuk apresiasi bagi peserta yang telah membuat Eco Enzyme.
“Fakta di lapangan, orang lebih tertarik belajar membuat sabun daripada membuat Eco Enzyme. Karena itu kelas sabun saya jadikan hadiah dengan syarat peserta sudah membuat Eco Enzyme agar masyarakat terdorong mengolah sampah organik dan mengurangi beban TPA,” katanya.
Ia menjelaskan, Eco Enzyme merupakan hasil fermentasi limbah organik rumah tangga yang bermanfaat bagi lingkungan dan dapat diolah menjadi produk ramah lingkungan bernilai ekonomi, sehingga mampu membantu menghemat pengeluaran keluarga.
Kegiatan ini juga turut dihadiri, Pastor Paroki Santa Maria DTBA, sang pastor mengajak seluruh umat menjalankan pertobatan ekologis melalui tindakan nyata merawat ciptaan Tuhan.
Ia juga menekankan pentingnya Rencana Tindak Lanjut (RTL) agar pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan berkembang menjadi gerakan berkelanjutan di lingkungan gereja dan masyarakat.
Melalui pelatihan ini, PSE-Caritas berharap lahir komunitas yang mampu mengelola sampah organik secara mandiri, memproduksi sabun sehat berbahan Eco Enzyme, serta menciptakan lingkungan Tulungagung yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. **”









