JAKARTA, SPN — Front Penggerak Seni Taman Ismail Marzuki (FPS TIM) bersama para jurnalis dan sejumlah organisasi jurnalis yang didukung PT Jakarta Propertindo (Jakpro) menggelar Panggung Doa dan Rindu pada Senin (14/9/2026) malam.
Kegiatan tersebut menjadi bentuk solidaritas sekaligus doa bersama untuk lima jurnalis yang hari ini sudah tepat 7 hari belum diketahui keberadaannya setelah hilang kontak saat menjalankan tugas peliputan.
Kelima jurnalis tersebut yakni M. Bagus Khoirunnas dari Perum LKBN ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, serta Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas.
Selain lima jurnalis, tiga kru yang berada dalam rombongan tersebut juga dilaporkan belum ditemukan, yakni Warta selaku nakhoda kapal, Surakman sebagai anak buah kapal (ABK), dan Heriyanto sebagai pemandu.
Peristiwa hilang kontak tersebut terjadi saat rombongan menjalankan tugas peliputan di kawasan Anak Gunung Krakatau. Hingga kini, operasi pencarian masih dilakukan oleh Tim SAR Gabungan.
Perwakilan Jakpro, Anya, mengatakan kegiatan malam tersebut merupakan bentuk solidaritas terhadap para jurnalis dan kru kapal yang masih dalam pencarian.
“Yang sudah menjalankan tugas, kami yang ada di tim saling merangkul. Turut menghanturkan doa agar proses pencarian dapat segera mendapatkan kabar baik dalam waktu dekat ini,” ujar Anya dalam sambutannya.
Dalam kesempatan tersebut, Anya juga membacakan doa bersama. Ia berharap kelima jurnalis dan tiga kru kapal dapat ditemukan dalam kondisi selamat dan kembali berkumpul bersama keluarga.
“Tuhan, hari ini kami menyatukan hati dan pikiran kami untuk mendoakan lima jurnalis dan tiga kru kapal. Berikan perlindungan terbaik. Semoga ada keajaiban dan kabar baik,” tuturnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Masyarakat Penggiat Seni Indonesia (MPSI), David Karo Karo, yang hadir sebagai perwakilan FPS TIM, menyampaikan rasa haru atas solidaritas yang terbangun antara seniman dan jurnalis.
Dengan mata berkaca-kaca, David mengatakan hubungan antara dunia seni dan jurnalisme telah terjalin dalam perjalanan panjang.
“Di malam yang penuh khidmat, Panggung Doa dan Rindu ini kami coba menyatukan nilai kemanusiaan, mengalahkan ego, untuk sebuah tatanan kemanusiaan,” kata David.
David menegaskan pihaknya akan terus memberikan dukungan moral selama proses pencarian berlangsung.
“Terima kasih Mbak Anya dan Paimo dari Media Indonesia. Tidak ada lagi yang ingin saya katakan selain keselamatan untuk para jurnalis yang selalu seiring sejalan dengan para seniman sudah belasan bahkan puluhan tahun ini,” ujarnya.
Jurnalis senior Media Indonesia, Paimo, mengatakan malam tersebut menjadi momentum bagi para jurnalis untuk saling menguatkan di tengah beratnya situasi.
Ia menyebut para jurnalis yang hilang sedang menjalankan tugas untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi di kawasan bencana.
“Ketika masyarakat menjauh dari lokasi bencana, justru kami mendekat. Sebagai jurnalis, kami maju ke depan untuk mengabarkan dan menggali informasi, untuk mendapatkan informasi yang akurat demi informasi terpercaya,” ungkap Paimo.
Menurut dia, lokasi bencana bukanlah tempat untuk mencari bahaya. Namun, tugas jurnalistik menuntut keberanian untuk mendapatkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
Paimo juga menyampaikan informasi terakhir dari posko terpadu bahwa operasi pencarian terhadap para jurnalis dan kru kapal akan diperpanjang selama tiga hari ke depan.
“Kami berharap ikhtiar ini membuahkan hasil sehingga keluarga yang di rumah mendapatkan titik terang,” terangnya.

Panggung Doa dan Rindu kemudian menjadi ruang bersama bagi jurnalis dan seniman untuk menyampaikan harapan agar seluruh korban segera ditemukan dalam keadaan selamat dan dapat kembali berkumpul dengan keluarga. ***





